Pengertian
Kontrak Berbasis Kinerja
oleh
Budy Hermawan
Kontrak berbasis kinerja (performance-based contract) adalah kontrak pengadaan barang/jasa yang menitikberatkan pada pencapaian hasil (output/outcome) dengan indikator kinerja terukur sebagai dasar pembayaran dan evaluasi.
Fokusnya:
1) Bukan
pada cara kerja
2) Tetapi
pada hasil yang harus dicapai
Dalam praktik PBJP, model ini banyak dipakai pada:
1) Pemeliharaan
jalan
2) Layanan
kebersihan
3) Pengelolaan
fasilitas
4) Layanan
IT
5) Manajemen
aset
Dasar Hukum
Beberapa regulasi yang menjadi rujukan:
1. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 beserta perubahannya
Mengatur prinsip:
1) Value
for money
2) Efisiensi
3) Efektivitas
4) Akuntabilitas
Kontrak berbasis kinerja sejalan dengan prinsip tersebut.
2. Peraturan LKPP Nomor 12 Tahun
2021
Di dalamnya dijelaskan:
1) Spesifikasi
dapat berbasis kinerja
2) Kontrak
dapat memuat indikator kinerja
3) Pembayaran
dapat dikaitkan dengan capaian kinerja
3. Peraturan LKPP Nomor 9 Tahun 2018
Menjelaskan bentuk kontrak dan ruang penggunaan spesifikasi
berbasis output/kinerja.
Elemen Wajib Kontrak Berbasis Kinerja
Agar tidak jadi “kontrak rasa biasa”, minimal harus ada:
- Indikator
kinerja terukur (KPI)
- Standar
mutu/Service Level Agreement (SLA)
- Mekanisme
pengukuran dan pelaporan
- Skema
pembayaran berbasis capaian
- Klausul
insentif dan/atau disinsentif
Kelebihan & Kekurangan
A. Dari Perspektif PPK
Kelebihan bagi PPK
- Fokus
pada hasil nyata
- Mengurangi
micromanagement
- Lebih
mudah mengukur akuntabilitas
- Mendorong
inovasi penyedia
- Lebih
sejalan dengan audit berbasis kinerja
Kekurangan/Risiko bagi PPK
- Penyusunan
KPI sulit jika tidak kompeten
- Risiko
sengketa jika indikator tidak jelas
- Monitoring
harus konsisten
- Perlu
SDM yang paham manajemen kinerja
- Jika
salah desain kontrak → potensi temuan
Kelebihan bagi Penyedia
- Fleksibilitas
metode kerja
- Bisa
berinovasi
- Berpotensi
dapat insentif
- Tidak
dikekang detail teknis berlebihan
- Lebih
profesional dan kompetitif
Kekurangan/Risiko bagi Penyedia
- Risiko
finansial lebih tinggi
- Beban
jaminan mutu lebih besar
- Harus
punya sistem manajemen internal kuat
- Jika
gagal capai KPI → potensi denda/pemotongan
- Perlu
modal kerja yang memadai
Kapan
Tepat Digunakan?
Cocok jika:
1) Output
bisa diukur jelas
2) Hasil
dapat diverifikasi
3) Ada
standar mutu objektif
4) Pasar
penyedia cukup kompeten
Tidak cocok jika:
a) Pekerjaan
sangat spekulatif
b) KPI
sulit dirumuskan
c) SDM
pengelola kontrak belum siap
Kesimpulan
Kontrak berbasis kinerja adalah instrumen untuk:
a) Meningkatkan
efektivitas belanja negara
b) Memindahkan
risiko ke pihak yang paling mampu mengelola
c) Mendorong
profesionalisme penyedia
Tabel Perbandingan Jenis Kontrak PBJP
|
Aspek |
Kontrak Berbasis Kinerja |
Lump Sum |
Harga Satuan |
|
Fokus Utama |
Hasil (output/outcome) |
Total nilai pekerjaan |
Volume pekerjaan |
|
Dasar Pembayaran |
Capaian KPI / SLA |
Nilai total tetap |
Volume aktual x harga satuan |
|
Perubahan Volume |
Tidak relevan jika KPI tercapai |
Tidak mempengaruhi pembayaran |
Sangat mempengaruhi nilai
kontrak |
|
Risiko Volume |
Ditanggung penyedia |
Ditanggung penyedia |
Ditanggung PPK |
|
Fleksibilitas Metode Kerja |
Tinggi |
Rendah |
Sedang |
|
Kebutuhan Spesifikasi Detail |
Fokus standar kinerja |
Harus sangat rinci di awal |
Rinci per item pekerjaan |
|
Potensi Addendum |
Relatif kecil jika KPI jelas |
Kecil |
Sering terjadi jika volume
berubah |
|
Monitoring |
Evaluasi kinerja berkala |
Verifikasi hasil akhir |
Pengukuran kuantitas rutin |
|
Cocok Untuk |
Pemeliharaan, layanan
berkelanjutan, IT, fasilitas |
Pekerjaan dengan ruang lingkup
pasti |
Konstruksi dengan volume belum
pasti |
Perbandingan Risiko
|
Pihak |
Berbasis
Kinerja |
Lump
Sum |
Harga
Satuan |
|
PPK |
Risiko salah desain KPI |
Risiko spesifikasi kurang matang |
Risiko pembengkakan volume |
|
Penyedia |
Risiko gagal capai KPI |
Risiko salah hitung biaya |
Risiko volume kecil dari
estimasi |
1️. Kontrak Berbasis Kinerja
a) Paling
modern.
b) Fokus
value for money.
c) Cocok
untuk reformasi pengadaan berbasis hasil.
d) Butuh
SDM pengelola kontrak yang matang.
2️. Lump Sum
a) Paling
sederhana secara administrasi.
b) Cocok
jika ruang lingkup sudah sangat jelas.
c) Minim
perubahan selama pelaksanaan.
3️. Harga Satuan
a) Fleksibel
untuk pekerjaan yang volumenya belum pasti.
b) Umum
di konstruksi.
c) Rawan
eskalasi anggaran jika pengendalian lemah.
|
Kondisi
Pekerjaan |
Berbasis
Kinerja |
Lump
Sum |
Harga
Satuan |
|
Output dapat diukur dengan KPI
jelas |
Sangat cocok |
Bisa |
Bisa |
|
Ruang lingkup sudah pasti dan
detail |
Bisa |
Sangat cocok |
Bisa |
|
Volume pekerjaan belum pasti |
Kurang cocok |
Tidak cocok |
Sangat cocok |
|
Pekerjaan berulang/berkelanjutan |
Sangat cocok |
Bisa |
Bisa |
|
Fokus pada kualitas layanan |
Sangat cocok |
Terbatas |
Terbatas |
|
Risiko perubahan volume tinggi |
Bisa |
Berisiko |
Cocok |
|
Ingin mendorong inovasi penyedia |
Sangat cocok |
Kurang |
Sedang |
|
SDM pengelola kontrak masih
terbatas |
Berisiko |
Lebih aman |
Perlu pengawasan |
Cara Membaca Matriks
Langkah 1
Tanyakan:
Apakah volume bisa dihitung pasti sejak awal?
ü Jika
YA → Pertimbangkan Lump Sum
ü Jika
TIDAK → Harga Satuan
Langkah 2
Apakah kualitas layanan menjadi fokus utama dan bisa dibuat
KPI terukur?
ü Jika
YA → Berbasis Kinerja
Langkah 3
Apakah risiko teknis dan volume tinggi?
ü Jika
YA → Hindari Lump Sum
Contoh Studi Kasus Singkat
Kasus 1
Pemeliharaan jalan 3 tahun dengan target kemantapan ≥ 95%
→ Pilihan paling rasional: Kontrak Berbasis Kinerja
Kasus 2
Pembangunan gedung kantor dengan DED lengkap
→ Pilihan paling aman: Lump Sum
Kasus 3
Pekerjaan drainase dengan volume tanah belum pasti
→ Pilihan realistis: Harga Satuan
Prinsip
Strategis yang Harus Dipahami
- Jenis
kontrak bukan soal kebiasaan, tapi soal manajemen risiko.
- Kesalahan
memilih jenis kontrak bisa berdampak pada:
ü
Pemborosan anggaran
ü
Sengketa kontrak
ü
Temuan audit
- Kontrak
berbasis kinerja bukan untuk semua pekerjaan.
- Lump
sum aman, tapi bisa mahal jika perencanaan tidak matang.
- Harga
satuan fleksibel, tapi rawan pembengkakan jika pengendalian lemah.



Komentar
Posting Komentar