Dari Isu ke Solusi: Kunci Pejabat Administrator Merumuskan Kebijakan Tepat di Era Tantangan 2026
Pagi itu, Senin, 6 April 2026, suasana di Gedung BKPSDM Kabupaten Ciamis terasa berbeda dari biasanya. Udara masih sejuk, namun semangat para peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator sudah terasa hangat sejak langkah pertama mereka memasuki ruangan. Sebanyak 30 orang peserta yang merupakan para pejabat eselon III dari berbagai perangkat daerah hadir dengan penuh kesiapan, membawa harapan sekaligus tanggung jawab sebagai calon pemimpin perubahan di unit kerjanya masing-masing.
Kegiatan pembukaan Pelatihan
Kepemimpinan Administrator tersebut secara resmi dibuka oleh DR Andang Firman
Triyadi selaku Sekretaris Daerah di Kabupaten Ciamis. Dalam sambutannya, ia
menekankan pentingnya peran strategis pejabat administrator dalam memastikan
roda pemerintahan berjalan efektif, responsif, dan berorientasi pada pelayanan
publik. Ia juga mengingatkan bahwa tantangan birokrasi ke depan tidak semakin
ringan, sehingga dibutuhkan aparatur yang adaptif dan memiliki kapasitas
kepemimpinan yang kuat.
Ia membuka dengan sapaan hangat,
mencairkan suasana yang semula kaku. Namun, tidak butuh waktu lama untuk
membawa peserta masuk ke inti persoalan.
“Bapak dan Ibu sekalian,” ujarnya
dengan nada tegas namun bersahabat, “menjadi pejabat administrator hari ini
bukan sekadar menjalankan rutinitas birokrasi. Kita sedang berada di era di
mana perubahan terjadi sangat cepat, dan masyarakat tidak lagi menunggu—mereka
menuntut.”
Kalimat itu langsung menyentak
perhatian peserta. Beberapa mengangguk pelan, seolah mengiyakan realitas yang
mereka hadapi sehari-hari.
Budy melanjutkan, bahwa salah
satu kemampuan paling penting yang harus dimiliki oleh seorang ASN, khususnya
pejabat administrator, adalah memahami dan menguasai isu-isu strategis di
daerahnya. Ia menekankan bahwa tanpa pemahaman tersebut, kebijakan yang dihasilkan
akan kehilangan arah, bahkan berpotensi tidak relevan dengan kebutuhan
masyarakat.
“Coba kita jujur,” lanjutnya,
“berapa banyak kebijakan yang kita buat benar-benar berbasis pada persoalan
nyata di lapangan? Dan berapa yang hanya sekadar mengikuti pola lama atau
bahkan sekadar memenuhi kewajiban administratif?”
Ruangan hening. Pertanyaan itu
terasa sederhana, tetapi mengandung refleksi yang dalam.
Ia menyebut beberapa contoh:
ketimpangan pelayanan publik antara wilayah perkotaan dan perdesaan, tantangan
pengangguran usia produktif, kualitas pendidikan yang belum merata, hingga
persoalan infrastruktur yang masih menjadi keluhan masyarakat. Semua itu,
menurutnya, bukan sekadar data statistik, melainkan cerminan kebutuhan yang
harus dijawab melalui kebijakan yang tepat.
“Kalau kita tidak memahami isu
strategis daerah kita sendiri,” ujarnya, “maka kita hanya akan menjadi penonton
dalam proses pembangunan. Padahal, posisi kita adalah aktor utama.”
Budy kemudian menjelaskan bahwa
memahami isu strategis tidak cukup hanya dengan membaca laporan atau menghadiri
rapat. Diperlukan kepekaan, kemampuan analisis, dan keberanian untuk turun
langsung melihat kondisi di lapangan.
Ia bercerita tentang pengalaman
bertemu masyarakat yang seringkali tidak tersampaikan dalam forum formal. Dari
situlah, menurutnya, banyak persoalan nyata justru terungkap.
“Kadang masyarakat tidak butuh
kebijakan yang rumit,” katanya sambil tersenyum tipis, “mereka hanya butuh
solusi yang tepat dan cepat. Tapi untuk itu, kita harus tahu dulu masalahnya di
mana.”
Para peserta mulai terlihat lebih
terlibat. Beberapa mencatat, yang lain memperhatikan dengan serius.
Ia kemudian mengaitkan hal
tersebut dengan peran strategis pejabat administrator. Menurutnya, pejabat
administrator berada pada posisi yang sangat menentukan—di tengah antara
perumus kebijakan strategis dan pelaksana teknis di lapangan.
“Bapak dan Ibu ini bukan hanya
pelaksana, tapi juga penghubung,” jelasnya. “Di tangan Anda, kebijakan bisa
menjadi solusi, atau justru menjadi beban baru bagi masyarakat.”
Dalam penyampaiannya, Budy juga
menyinggung pentingnya berpikir sistemik. Ia mengingatkan bahwa setiap isu
saling terkait dan tidak bisa diselesaikan secara terpisah.
“Masalah kemiskinan, misalnya,”
ujarnya, “tidak bisa hanya diselesaikan dengan bantuan sosial. Harus dilihat
dari aspek pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, bahkan budaya masyarakat.
Kalau kita melihatnya sepotong-sepotong, maka solusinya juga akan setengah-setengah.”
Nada bicaranya tetap tenang,
tetapi pesan yang disampaikan terasa kuat. Ia tidak sedang memberikan teori
kosong, melainkan mengajak peserta untuk berpikir lebih luas dan mendalam.
Ia juga menyoroti pentingnya data
dalam memahami isu strategis. Namun, ia mengingatkan bahwa data harus diolah
dengan benar dan tidak sekadar dijadikan formalitas.
“Data itu penting,” katanya,
“tapi lebih penting lagi adalah bagaimana kita memaknai data tersebut. Jangan
sampai kita punya banyak angka, tapi tidak punya arah.”
Beberapa peserta tampak tersenyum
kecil, mungkin merasa “tersindir” secara halus.
Budy kemudian mengajak peserta
untuk membangun kebiasaan berpikir kritis. Ia menekankan bahwa pejabat
administrator tidak boleh hanya menerima informasi apa adanya, tetapi harus
mampu menganalisis, mempertanyakan, dan mencari akar persoalan.
“Kalau ada masalah,” ujarnya,
“jangan langsung lompat ke solusi. Pahami dulu masalahnya secara utuh. Kadang
kita terlalu cepat ingin menyelesaikan, padahal kita belum benar-benar
memahami.”
Suasana semakin hidup. Pengarahan
yang awalnya terasa formal kini berubah menjadi ruang refleksi bersama.
Pada bagian lanjutan arahannya,
Budy menambahkan perspektif yang lebih luas dengan mengacu pada hasil survei
dari Lembaga Administrasi Negara. Ia menyampaikan bahwa pada tahun 2026,
terdapat tujuh isu utama yang menjadi tantangan kepemimpinan, dan seluruh
peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator wajib memahaminya secara serius.
Ia menguraikan satu per satu
dengan lugas. Pertama, integritas dan korupsi—yang menurutnya masih menjadi
ujian klasik namun belum selesai. Kedua, teknologi dan transformasi digital,
yang menuntut ASN tidak gagap teknologi. Ketiga, ekonomi, khususnya dalam
mendorong pertumbuhan yang inklusif. Keempat, sumber daya manusia, sebagai
fondasi utama pembangunan. Kelima, globalisasi, yang membawa peluang sekaligus
ancaman. Keenam, lingkungan, yang semakin krusial di tengah perubahan iklim.
Dan ketujuh, workplace behaviour, yang menyangkut budaya kerja dan
profesionalisme ASN.
“Kalau tujuh isu ini tidak
dipahami,” tegasnya, “maka kita akan tertinggal. Dan yang lebih bahaya,
kebijakan yang kita buat tidak akan relevan dengan tantangan zaman.”
Ia menambahkan dengan nada
ringan, “Jangan sampai kita masih sibuk dengan cara kerja lama, sementara
masalahnya sudah level 2026.”
Peserta kembali tersenyum, namun
kali ini dengan pemahaman yang lebih dalam.
Di bagian akhir, ia menegaskan
kembali inti pesannya. Bahwa keberhasilan pembangunan daerah sangat bergantung
pada kualitas kebijakan yang dirumuskan. Dan kualitas kebijakan tersebut sangat
ditentukan oleh sejauh mana ASN, khususnya pejabat administrator, memahami isu
strategis di daerahnya—termasuk tujuh isu global yang kini menjadi tantangan
nyata.
“Kalau kita ingin pembangunan
yang benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya, “maka kita harus mulai dari
pemahaman yang benar. Dari situ, baru kita bisa merumuskan kebijakan yang
tepat.”
Ia berhenti sejenak, lalu
melanjutkan dengan nada yang lebih ringan, namun tetap mengena.
“Jangan sampai kita sibuk
bekerja, tapi lupa untuk berpikir. Karena di jabatan ini, berpikir itu bagian
dari pekerjaan.”
Beberapa peserta tertawa kecil, namun sekaligus mengangguk
setuju.
Menutup arahannya, Budy
menyampaikan harapannya agar pelatihan ini tidak hanya menjadi formalitas,
tetapi benar-benar menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas diri.
“Saya berharap,” ujarnya,
“sepulang dari pelatihan ini, Bapak dan Ibu tidak hanya membawa sertifikat,
tetapi juga membawa cara berpikir yang baru—yang lebih tajam, lebih peka, dan
lebih berorientasi pada solusi.”
Tepuk tangan pun terdengar
mengisi ruangan. Bukan sekadar bentuk penghormatan, tetapi juga tanda bahwa
pesan yang disampaikan telah sampai.
Pagi itu, di Gedung BKPSDM
Ciamis, sebuah pengingat penting telah disampaikan: bahwa menjadi pejabat
administrator bukan sekadar soal jabatan, tetapi tentang tanggung jawab untuk
memahami, merumuskan, dan menghadirkan kebijakan yang benar-benar dibutuhkan
oleh masyarakat.
Dan seperti yang tersirat dalam setiap kalimat Budy
Hermawan—kalau ASN tidak memahami isu strategis daerahnya, maka kebijakan hanya
akan menjadi dokumen. Tapi jika memahami, kebijakan bisa menjadi solusi nyata.
Pilihan ada di tangan mereka.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar