Liburan Keluarga di Selabintana , Sukabumi

 Liburan Keluarga di Selabintana , Sukabumi

 

Sabtu pagi itu, matahari bersinar ramah di langit Antapani, Bandung. Jam tangan saya menunjukkan pukul 10.15 WIB ketika saya, Hamidah, dan dua anak kami—Anisa dan Anita—mulai menapaki petualangan kecil menuju Sukabumi. Mobil melaju santai di tol Purbaleunyi. Suasana cerah, playlist keluarga diputar, anak-anak sibuk berceloteh dan ngemil.

"Papah, kita langsung ke Selabintana?" tanya Anisa.

"Nggak, Kak. Kita mampir dulu makan siang di Kota Baru Parahyangan," jawab saya sambil nyetir.

Perjalanan lancar, dan sekitar pukul 12.30 siang kami tiba di kawasan Kota Baru. Pilihan makan siang jatuh ke Rumah Makan Padang Simpang Raya. Menu sudah tak perlu didiskusikan lama—rendang, ayam pop, gulai otak, sambal ijo, dan kerupuk jangek. Anita terlihat senang sekali dengan gulai otaknya, Anisa minta tambah nasi.

Setelah makan dan salat, perjalanan kami lanjutkan. Mobil mengarah ke Sukabumi, melewati jalan yang berliku dan tanjakan yang penuh dengan pemandangan hijau. Anita mulai bosan, bahkan tak lama kemudian dd anita dan kk  Anisa mulai tertidur. Saya dan Hamidah menikmati momen tenang.

Sekitar jam 4 sore, kami akhirnya tiba di Hotel Selabintana. Udara sejuk langsung menyapa seperti pelukan lama yang dirindukan. Hotel ini memberi kami rasa nostalgia—sudah hampir 15 tahun sejak terakhir kali saya ke sini. Hamidah memandangi pohon beringin tua yang masih berdiri tegak.

“Pohon ini kayaknya umurnya udah 100 tahun ya, Pa,” ucapnya.

“Bisa jadi. Tapi kita juga udah makin tua,” canda saya.

Setelah check-in, kami istirahat sebentar. Anak-anak langsung eksplor balkon kamar. Pemandangan hamparan rumput hijau yang luas dibelakang Kawasan taman wisata selabintana, dihiasi kabut tipis dan suara serangga sore, membuat hati tenang.


Menjelang malam, kami berjalan ke kafe “Di Bawah Langit Selabintana”. Kafe ini terbuka, dengan lampu dengan mode seperti lilin kuning dan panggung kecil. Live music mengalun pelan, membawakan lagu-lagu nostalgia. Kami memesan hot chocolate, pisang goreng keju, dan wedang jahe.

“Aku suka tempat ini,” kata Anisa sambil menatap langit malam.

“Tempatnya kayak dongeng ya, Kak,” tambah Anita.

Suasana hangat dan romantis. Kami menikmati malam hingga jam 11. Akhirnya dd Anita masuk kamar dan tertidur Bersama KK Nita, dan kami pun kembali ke kamar untuk beristirahat.

Minggu shubuh, suara adzan subuh membangunkan saya. Setelah salat, saya dan Hamidah serta anak2 berjalan ke Kawasan taman wisata selabintana. Kabut pagi menggantung di atas rumput, dan beringin tua terlihat seperti penjaga waktu. Kami menikmati suasana sepi yang indah.

Karena hotel tidak menyediakan sarapan, kami membuka bekal: roti tawar isi serta coklat shaset . Sarapan sederhana, tapi terasa nikmat karena kebersamaan.

“Papah, hari ini kita mau kemana?” tanya Anisa.

“Nanti jam 9, Papah sama Mamah ke resepsi dulu sebentar,” jawab saya.

Tepat pukul 9 pagi, saya dan Hamidah menuju Bale Kinasih, tempat resepsi pernikahan putra dari teman sekolah istri saya. Lokasinya tidak jauh dari hotel. Suasana resepsi penuh kekeluargaan. Akad nikah berlangsung khidmat dengan sentuhan adat Sunda. Setelah memberikan ucapan selamat, kami kembali ke hotel menjemput anak-anak.


Setelah semuanya siap dan koper beres, kami melakukan proses check-out. Sebelum pulang ke Bandung, kami mampir ke rumah keluarga di Perumahan Tanjung Sari, Sukabumi. Obrolan hangat, teh manis, dan tawa-tawa ringan mengisi momen singkat itu.

Bada Zuhur, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung. Perjalanan melelahkan, tapi penuh cerita. Di Cianjur, kami berhenti makan di RM Ampera—tempat langganan kami setiap lewat jalur ini. Menu wajib: pepes tahu, ayam goreng, sambal, dan lalap. Anita makan dengan lahap, Anisa memesan teh manis.

Perjalanan dilanjutkan. Lagu dari playlist keluarga kembali menemani. Sesekali anak-anak tertawa mengingat momen-momen semalam.

Sekitar pukul 5 sore, kami tiba kembali di rumah di Antapani. Capek, tapi hati penuh kenangan. Anita langsung peluk bantal. Anisa minta mandi air hangat. Saya dan Hamidah duduk di teras, diam, tapi tersenyum.

“Liburan singkat, tapi cukup bikin recharge ya, Pa,” kata Mamah.

“Betul. Yang penting bukan jauhnya, tapi bareng-barengnya,” jawab saya.

Liburan ke Selabintana mungkin cuma satu malam. Tapi cerita, momen, dan kehangatan yang kami bawa pulang akan hidup lebih lama. Sampai liburan selanjutnya.

 

Komentar