API YANG MENYALAKAN JIWA: MALAM ASBN PESERTA LATSAR CPNS
MAJALENGKA 2025
Malam Selasa, 25 November 2025, halaman BPSDM Jawa Barat berubah menjadi arena khidmat yang tak biasa. Biasanya, halaman itu ramai oleh suara peserta pelatihan yang lalu-lalang, atau kadang riuh oleh kegiatan olahraga ringan di sore hari. Namun malam itu, suasananya berbeda. Ada denyut semangat yang mengalir dari setiap sudut lapang, seakan-akan seluruh tempat itu sudah bersiap menyambut momen besar. Para peserta Latsar CPNS Kabupaten Majalengka Angkatan 1, 2, dan 3 mulai berkumpul sejak pukul 19.00 WIB, mengisi barisan panjang yang telah ditata rapi. Malam itu adalah malam mereka mengikuti prosesi Api Semangat Bela Negara—ASBN—salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan Latsar.
Udara terasa sejuk, angin bergerak
lembut seperti mengajak semua untuk menenangkan hati. Penerangan lapangan masih
menyala ketika persiapan berlangsung—lampu-lampu sorot memantulkan bayangan
panjang peserta yang sedang membuat barisan. Satu-dua peserta sempat terlihat
berlatih pelan mengucapkan ikrar, mungkin takut grogi nanti ketika harus
mengucapkannya lantang. Para Widyaiswara pengampu, enam orang semuanya, berjaga
di sisi lapangan—wajah mereka tampak serius, tetapi ada senyum kecil yang tak
bisa disembunyikan. Mereka tahu malam ini akan jadi malam istimewa.
Tepat pukul 19.25 WIB, seorang petugas teknis memberikan tanda. Seluruh Widyaiswara dan panitia mengangguk, memastikan semuanya siap. Dan dalam satu momen pendek, klik, seluruh lampu penerangan lapangan dimatikan. Dalam sekejap, halaman BPSDM menjadi gelap gulita. Tidak ada satu pun peserta yang bersuara. Hening itu bukan sekadar hening; ia seperti ruang kosong yang sedang menunggu diisi makna.
Kegelapan itu menciptakan nuansa
magis. Peserta yang tadi berdiri santai, kini merapatkan barisan tanpa
diperintah. Ada yang terlihat menelan ludah, ada yang menggenggam jari sendiri
untuk memastikan tetap tenang. Lampu-lampu dari gedung sekitar hanya memberikan
sedikit pantulan cahaya yang tidak cukup untuk menerangi lapang secara penuh.
Dan justru dalam gelap itu, inti ASBN mulai terasa.
Dari ujung lapangan, dua titik cahaya
muncul perlahan. Semakin lama semakin jelas. Cahaya itu berasal dari dua obor
kecil yang dibawa oleh perwakilan peserta yang mengiringi pemimpin ASBN. Ketika
mereka berjalan memasuki area lapangan yang gelap, para peserta serentak
memusatkan perhatian. Suasana yang sebelumnya gelap pekat kini berubah menjadi
penuh ekspektasi. Cahaya obor itu menari di wajah peserta, menciptakan suasana
dramatis yang tidak pernah bisa tercipta oleh lampu listrik.
Pemimpin ASBN berhenti di tengah
lapangan. Di belakangnya, dua orang pembawa bendera Merah Putih berdiri tegap.
Begitu mereka mencapai posisi yang telah ditentukan, suara musik pembukaan
Indonesia Raya mulai terdengar. Tidak ada lampu. Tidak ada sorotan. Hanya gelap
dan suara lantang para peserta yang menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh
semangat. Suara mereka menggema—serius, kuat, tidak ada yang pelan atau
ragu-ragu. Dalam gelap itu, Indonesia Raya terasa jauh lebih meresap, seakan
memeluk seluruh lapangan.
Begitu lagu usai, dari sisi lapangan terlihat lima titik cahaya baru. Lima perwakilan peserta berjalan membawa obor menuju tengah lapangan. Setiap langkah mereka menciptakan efek cahaya kecil yang memecah gelap. Api di obor mereka terpantul di mata peserta lain yang sedang menyaksikan dengan takjub. Ada yang tampak terharu, ada yang terlihat sangat fokus, ada pula yang tanpa sadar memegang dada sendiri.
Saat lima pembawa obor tiba di titik
tengah lapangan, pembina ASBN—Widyaiswara Kabupaten Sukabumi, Dedi Suryadi,
S.Sos., MM.—maju ke depan. Wibawanya terasa kuat. Dengan gerakan terukur,
ia menerima satu obor dari perwakilan peserta. Semua mata tertuju kepadanya.
Dan dengan satu sentuhan, ia menyalakan Obor Utama ASBN.
Api itu menyala besar, merah-oranye,
memantulkan cahaya ke seluruh lapangan. Dalam sekejap, halaman BPSDM kembali
terang—bukan oleh listrik, tetapi oleh sinar api yang hangat dan penuh makna.
Para peserta spontan menarik napas kecil; momen itu menembus hati. Ada energi
nasionalisme yang seolah melejit dari tengah lapangan, menjalari seluruh
barisan.
Obor utama itu kemudian digunakan
untuk menyalakan Api ASBN yang telah disiapkan di tengah. Api besar itu
menyala dengan cepat, menjalar dan membentuk nyala kokoh. Angin malam
mengibaskan kobarannya, menciptakan suara berdesis kecil yang justru memperkuat
suasana. Kini lapangan tidak lagi gelap—ia berubah menjadi arena penuh cahaya
semangat kebangsaan.
Setelah api utama menyala, lima
pembawa obor berdiri saling berjajar. Salah satu dari mereka, yang suaranya
paling mantap, memulai pengucapan Ikrar Bela Negara. Lalu seluruh
peserta mengikutinya serempak. Suara mereka menggema, menembus udara malam:
“Kami putra putri Indonesia, mengaku
bertanah air satu…!”
Suaranya lantang, ritmis, penuh
power. Tidak ada peserta yang terdengar ragu atau setengah hati. Barisan
panjang itu menyatu menjadi satu suara. Ucapan ikrar malam itu bukan sekadar
formalitas; ia terasa seperti janji yang sungguh-sungguh mereka tanamkan dalam
hati.
Selesai ikrar, Pembina ASBN
memberikan sambutan. Kalimatnya sederhana, to the point, dan tidak
bertele-tele—ciri khas beliau. Ia menekankan pentingnya disiplin, tanggung
jawab, dan pengabdian ASN kepada masyarakat. Sesekali ia menambahkan humor
ringan, membuat peserta tertawa kecil tanpa menghilangkan kekhidmatan suasana.
Setelah sambutan, prosesi dilanjutkan
dengan penciuman bendera Merah Putih. Dua pembawa bendera maju ke depan.
Musik lagu kebangsaan “Bendera Merah Putih” diputar perlahan. Satu per satu
peserta maju, menundukkan kepala, dan mencium tepi bendera dengan penuh hormat.
Ada yang terlihat berkaca-kaca. Ada yang menutup mata sejenak sebelum menyentuh
bendera. Momen itu terasa personal, seperti percakapan sunyi antara setiap
peserta dengan tanah airnya.
Ketika seluruh peserta selesai
mencium bendera, seorang perwakilan peserta maju membaca puisi tentang cinta
tanah air. Suaranya bergetar, tetapi kuat. Puisinya sederhana, tetapi menusuk.
Setiap baitnya menegaskan bahwa menjadi ASN bukan hanya bekerja, tetapi
mengabdi dan menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Setelah puisi, doa dipanjatkan.
Suasana kembali hening. Angin malam yang tadi sempat berhembus kuat kini
bergerak pelan, seakan ikut menunduk. Doa itu menyatukan semua harapan: agar
para peserta menjadi ASN yang profesional, amanah, dan mampu membawa kebaikan
bagi masyarakat Majalengka dan Indonesia.
Prosesi ASBN akhirnya ditutup dengan salam-salaman antara seluruh peserta dan enam Widyaiswara pengampu. Barisan peserta mengular panjang, tetapi mereka tetap tertib. Ada senyum hangat yang saling disapa, ada ucapan terima kasih yang lirih namun tulus. Widyaiswara mengangguk bangga, sementara peserta terlihat lega dan bahagia karena telah menyelesaikan prosesi penuh makna itu.
Ketika jam menunjukkan pukul 21.10
WIB, lampu-lampu lapangan kembali dinyalakan. Cahaya putih dari lampu terasa
berbeda setelah mereka merasakan cahaya api. Lapangan yang tadi hening kini
kembali riuh oleh suara peserta yang bercerita tentang momen favorit
masing-masing. Ada yang bilang bagian ikrar paling menyentuh. Ada yang bilang
penciuman bendera membuatnya merinding. Ada pula yang memuji betapa magis
suasana ketika lampu dimatikan sebelum prosesi dimulai.
Malam itu, ASBN bukan hanya upacara. Ia menjadi perjalanan batin.
Menjadi penyala semangat. Menjadi salah satu momen yang kelak dikenang peserta
ketika mereka sudah berdinas di instansi masing-masing.
Dan di antara cahaya yang baru menyala itu, satu hal terasa jelas:
Api Semangat Bela Negara tidak lagi hanya berkobar di tengah lapang tetapi
sudah menyala di dalam dada setiap peserta Latsar malam itu.




Komentar
Posting Komentar