Dua Hari yang Renyah di Cipanas: Cerita Mengajar PBJ Level 1 di Kabupaten Cianjur

 Dua Hari yang Renyah di Cipanas: Cerita Mengajar PBJ Level 1 di Kabupaten Cianjur


Mengajar di Kabupaten Cianjur selalu punya nuansa tersendiri. Ada hawa sejuk, keramahan khas tatar Sunda, dan gaya para pesertanya menyimak materi yang membuat saya bertanya-tanya, “ASN Cianjur ini baterainya pakai energi panas bumi atau apa? Kok nggak habis-habis?” Dua hari mengajar PBJ Level 1 bagi 30 ASN Kabupaten Cianjur di Hotel Tulip Horison Cipanas pada 24–25 November 2025 benar-benar seperti menikmati paket lengkap: ilmu padat, tawa lumayan kencang, dan diskusi yang kadang lebih hidup daripada acara debat kandidat.

Pelatihan berjalan dari pukul 08.00 sampai 15.30 WIB. Ruang kelas nyaman, udara sejuk, dan kursinya empuk—empuknya sampai saya khawatir peserta terlalu betah dan lupa pulang. Tapi kekhawatiran itu langsung hilang karena energi peserta justru makin naik setiap jam.

 

Hari Pertama: Pengantar PBJ, Perencanaan PBJ, dan Try Out Pertama

Saya membuka pelatihan dengan materi Pengantar PBJ. Baru lima menit bicara, sudah ada peserta yang bertanya apakah PBJ itu mirip belanja bulanan. Saya jawab, “Mirip, Bu. Bedanya kalau salah beli di rumah, ya paling dimarahi istri. Kalau salah dalam PBJ… bisa dimarahi satu kecamatan.” Tawa pecah. Seketika saya tahu: kelas ini hidup.

Masuk sesi Perencanaan PBJ, diskusi makin seru. Pertanyaan datang beruntun, mulai dari yang teknis sampai yang bernada curcol. Salah seorang bertanya, “Kalau rencana berubah di tengah jalan gimana, Pak?” Saya jawab cepat, “Itu wajar. Yang penting jangan komitmennya ikut berubah.” Lagi-lagi tawa meledak.

Untuk menguji pemahaman peserta, saya memberikan try out pertama. Soal-soal dibuat mirip gaya ujian Level 1—padat, naratif, dan penuh jebakan halus. Peserta serius mengerjakan, ekspresinya macam-macam: ada yang manggut-manggut, ada yang berkernyit, ada yang senyum-senyum seperti ingat mantan. Setelah dikoreksi, ternyata nilai mereka cukup baik. Saya bilang, “Lumayan, tapi jangan puas dulu. Ujian Level 1 itu seperti jalan naik ke Puncak—kalau lengah sedikit bisa ngos-ngosan.”

 

Hari Kedua: Pemilihan PBJ, Kontrak PBJ, dan Try Out Kedua


Hari kedua makin ramai. Pada materi Pemilihan PBJ, kelas berubah seperti ruang debat mini. Peserta saling berbagi pengalaman: penyedia yang hilang menjelang tanda tangan, HPS yang tiba-tiba tidak masuk akal, sampai kasus pengadaan sederhana yang drama-nya lebih panjang daripada sinetron.

Sesi Kontrak PBJ pun tak kalah heboh. Setelah saya jelaskan bahwa kontrak harus jelas dan tidak multitafsir, seorang peserta nyeletuk, “Multitafsir itu bahaya, Pak… kayak chat gebetan!” Saya balas, “Betul Bu. Bedanya, kalau kontrak multitafsir bisa diperiksa, kalau gebetan multitafsir… cuma bisa galau.” Ruang kelas pecah lagi.

Setelah materi selesai, saya memberikan try out kedua. Peserta sudah lebih siap; mengerjakan soal dengan gaya “tempur”. Nilainya meningkat cukup signifikan. Saya bilang, “Ini baru pemanasan yang serius. Kalau pertahanan kalian seperti ini saat ujian nanti, saya yakin banyak yang naik podium juara.”

 


Hari Ketiga: Swakelola & Rantai Pasok Bersama Pa Jarot

Pelatihan belum selesai. Masih ada satu hari lagi yang akan diisi oleh Pa Jarot Purwanto dengan materi Swakelola dan Rantai Pasok. Saya menyampaikan kepada peserta, “Besok siap-siap, materi Pak Jarot itu seperti turunan dan tanjakan di Cipanas—menantang tapi bikin ketagihan.”

Materi swakelola selalu membuka mata, sementara rantai pasok sering memicu diskusi kritis. Melihat semangat peserta dua hari ini, saya yakin sesi besok akan makin hidup.

 

Menuju Uji Kompetensi Level 1

Seluruh pelatihan ini memang dipersiapkan sebagai bekal peserta menghadapi uji kompetensi Level 1 di BPSDM Jawa Barat pada tanggal 27 November 2025. Saya menutup sesi dengan pesan, “Try out sudah bagus, nilai kalian sudah meningkat. Tinggal satu tugas: jaga konsentrasi di hari-H. Ingat, yang diuji itu bukan hanya hafalan, tapi ketelitian.”

Saya berharap semua peserta memperoleh hasil terbaik—nilai bagus, pemahaman mantap, dan kemampuan yang benar-benar bisa diterapkan di unit kerja masing-masing.

Dua hari di Cianjur itu bukan sekadar mengajar; itu perayaan belajar. Ada tawa, ada diskusi, ada kopi, dan ada optimisme. Semoga 30 peserta itu pulang dengan kepala penuh ilmu, hati penuh semangat, dan nilai uji kompetensi yang… tentu saja terbaik. Semangat, ASN Cianjur!

 


Komentar