Turing Silaturahmi: Perjalanan Hangat Menuju Rumah Bu Hj. Neneng di Cianjur dan Hari Panjang yang Penuh Cerita
Turing Silaturahmi: Perjalanan Hangat Menuju Rumah Bu Hj. Neneng di Cianjur dan Hari Panjang yang Penuh Cerita
Sabtu pagi, 15 November 2025, halaman
Kampus BPSDM Jawa Barat di Cimahi terasa lebih semarak dari biasanya. Udara
pagi cukup segar meski matahari sudah mulai naik. Saya bersama para sahabat—Pa
Dr Mumuh Munaim, Pa Dr Adang Kurniadi,
Pa Sutarli, dan Pa Ade Kasih—telah sepakat sejak awal pekan bahwa hari ini kami
akan melakukan turing silaturahmi menuju rumah seorang senior widyaiswara yang
sangat kami hormati, Dr. Hj. Neneng Kurniasih , MM di Cianjur. Setelah semua
persiapan selesai dan perlengkapan dicek, pada pukul 09.15 WIB kami
akhirnya menghidupkan mesin motor dan memulai perjalanan.
Dari BPSDM, kami menyusuri jalan
Sangkuriang yang teduh menuju Kota Baru Parahyangan. Motor melaju dengan ritme
santai, memberi kami kesempatan menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Lalu
lintas cukup ramah, sehingga perjalanan terasa ringan. Sesekali, celotehan dan
tawa melalui interkom membuat suasana semakin hangat. Setelah melewati Kota
Baru Parahyangan, kami masuk wilayah Cipatat, dan perjalanan terus berlanjut
hingga Rajamandala, daerah yang menjadi titik istirahat favorit kami setiap
kali menuju arah Cianjur.
Begitu tiba di area sekitar jembatan Rajamandala—ikon gerbang masuk Kabupaten Cianjur—kami segera memarkir motor. Kami memilih sebuah warung kopi sederhana di tepi jalan. Secangkir kopi panas menjadi teman istirahat singkat kami. Aromanya naik bersama hembusan angin yang datang dari arah sungai, membuat suasana terasa damai. Beberapa foto wajib kami ambil sebagai dokumentasi, karena pemandangan di sekitar jembatan Rajamandala tidak pernah kehilangan daya tariknya, seolah selalu memanggil untuk diabadikan. Setelah sekitar dua puluh menit beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih segar.
Perjalanan dari Rajamandala menuju
Ciranjang lalu Karangtengah berlangsung lancar. Kota Cianjur menyambut kami
dengan suasana khasnya yang padat namun tetap akrab. Menjelang pukul 11.30
WIB, kami tiba di rumah Bu Hj. Neneng. Rumahnya tetap seperti yang saya
ingat: asri, teduh, rapi, dan penuh aura kenyamanan. Hampir tiga tahun saya
tidak berkunjung, sehingga pertemuan ini terasa istimewa. Beliau menyambut kami
dengan senyum hangat yang langsung menghapus lelah perjalanan. Kami
dipersilakan masuk, dan obrolan mengalir begitu saja—mulai dari cerita
kediklatan, isu-isu BPSDM, pengalaman pribadi, hingga nostalgia masa-masa awal
menjadi widyaiswara.
Ketika dipersilakan menuju ruang makan, kami seperti mendapat kejutan besar. Hidangan yang disajikan benar-benar lengkap dan menggoda. Ada tutug oncom yang pulen, pepes ikan mas yang harum, terong balado dengan warna merah cerah, teri jengki renyah, kentang goreng, kerupuk, rendang sapi dengan bumbu pekat, hingga nasi liweut yang wangi sereh dan lengkuasnya terasa begitu khas. Kami makan dengan sangat lahap, seolah seluruh lelah perjalanan berubah menjadi energi untuk menikmati setiap suapan. Setelahnya, kami disuguhkan mangga manis sebagai pencuci mulut, dan rasanya benar-benar menjadi penutup sempurna untuk makan siang yang sangat berkesan.
Hampir tiga jam kami berada di rumah
Bu Hj. Neneng. Obrolan hangat, suasana penuh kekeluargaan, dan keramahan tuan
rumah membuat waktu berlalu tanpa terasa. Namun kami harus kembali. Kami
berpamitan dengan hormat, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas jamuan
dan kehangatan yang beliau berikan. Motor kembali kami hidupkan, dan kami
melaju ke arah Bandung dengan hati yang penuh rasa syukur.
Perjalanan pulang berlangsung lancar,
dan ketika jarum jam menunjukkan sekitar 16.30 WIB, kami kembali tiba di
Kampus BPSDM Jawa Barat. Turing selesai, tetapi hari saya belum selesai. Masih
ada tugas penting menanti. Setelah membersihkan diri sejenak dan mempersiapkan
materi, saya masuk bergabung dengan para
WI Pengampu untuk menyampaikan pelatihan Latsar CPNS Provinsi Jawa Barat
Angkatan 14–16, dengan materi Api Semangat Bela Negara (ASBN).
Kegiatan berlangsung hingga 20.45 WIB, dan meski tubuh sudah letih
karena perjalanan panjang sejak pagi, energi mengajar rasanya tetap mengalir,
mungkin karena semangat hari itu sejak awal memang penuh hal baik.
Saat menutup sesi pelatihan malam itu, saya sempat tersenyum dalam hati. Hari ini benar-benar lengkap: turing penuh cerita, silaturahmi yang hangat, jamuan yang luar biasa, perjalanan pulang yang tenang, dan diakhiri dengan kesempatan membagi ilmu kepada para CPNS. Rasanya seperti menjalani satu hari yang penuh berkat, ritme panjang tetapi menyenangkan, dan meninggalkan kesan yang akan saya ingat jauh ke depan.




Komentar
Posting Komentar