Catatan Reformasi Birokrasi BPSDM Jawa Barat 2025

 Catatan Reformasi Birokrasi BPSDM Jawa Barat 2025

disadur dari catatan pengarahan apel pagi akhir tahun 2025

 

Reformasi birokrasi di BPSDM Provinsi Jawa Barat pada akhir tahun 2025 merupakan hasil dari proses panjang yang dijalankan secara konsisten, terukur, dan berorientasi pada dampak nyata. Reformasi birokrasi tidak lagi dipahami sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai instrumen strategis untuk memperbaiki cara kerja organisasi. Pada konteks ini, BPSDM menempatkan reformasi birokrasi sebagai fondasi penguatan kualitas ASN dan tata kelola pemerintahan daerah. Tahun 2025 menjadi momentum penting karena berbagai upaya pembenahan yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya mulai menunjukkan hasil yang terukur. 

Reformasi birokrasi BPSDM Jawa Barat diarahkan untuk menjawab dua tantangan besar. Tantangan pertama adalah tuntutan peningkatan kualitas layanan pengembangan kompetensi ASN yang semakin kompleks. Tantangan kedua adalah tuntutan akuntabilitas publik yang semakin tinggi, baik dari aspek kinerja, keuangan, maupun integritas. Kedua tantangan ini tidak dapat dijawab dengan pendekatan lama. Oleh karena itu, BPSDM melakukan penyesuaian strategi reformasi birokrasi agar selaras dengan arah kebijakan nasional dan prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Target reformasi birokrasi BPSDM Jawa Barat tahun 2025 ditetapkan secara realistis namun progresif. Target utama adalah mempertahankan dan meningkatkan Indeks Reformasi Birokrasi dengan predikat minimal A atau memuaskan. Target ini bukan sekadar mengejar angka, tetapi mencerminkan komitmen organisasi terhadap perbaikan berkelanjutan. Selain target indeks, BPSDM juga menetapkan target penguatan sistem manajemen kinerja, penguatan pengendalian internal, serta peningkatan kualitas pelayanan publik dan kebijakan.

Target lainnya adalah peningkatan profesionalitas ASN melalui pengembangan kompetensi yang terstruktur dan relevan. BPSDM juga menargetkan peningkatan kualitas digitalisasi proses kerja, termasuk pengelolaan arsip dan pemanfaatan SPBE. Pada aspek keuangan, target diarahkan pada optimalisasi penyerapan anggaran dan peningkatan kepatuhan terhadap regulasi pengelolaan keuangan daerah. Semua target tersebut diturunkan ke dalam indikator dan sub indikator reformasi birokrasi yang terukur.  Capaian reformasi birokrasi BPSDM Jawa Barat tahun 2025 menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Nilai Indeks Reformasi Birokrasi mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2024 nilai RB berada pada angka 83,59 dengan kategori A memuaskan, maka pada tahun 2025 nilai RB meningkat menjadi 86,00 berdasarkan penilaian per 17 Desember 2025. Kenaikan ini menunjukkan bahwa upaya pembenahan yang dilakukan memberikan hasil yang signifikan.

Peningkatan nilai reformasi birokrasi tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Pada pertengahan Desember 2025, terjadi lonjakan nilai yang cukup tajam dalam waktu relatif singkat. Dalam kurun tujuh hari, nilai RB BPSDM meningkat dari predikat BB dengan skor 71,16 menjadi A memuaskan dengan skor 86,00. Lonjakan ini merupakan hasil konsolidasi data, penguatan eviden, serta penyempurnaan dokumen pendukung yang dilakukan secara intensif oleh seluruh unit kerja.

Capaian ini juga menunjukkan bahwa BPSDM mampu bekerja secara kolaboratif dalam situasi tekanan waktu. Setiap unit kerja memahami perannya dalam mendukung reformasi birokrasi. Koordinasi internal berjalan relatif efektif, sehingga perbaikan dapat dilakukan secara cepat tanpa mengorbankan kualitas. Capaian ini sekaligus melampaui nilai RB tahun 2024 dan menjadi indikator positif bagi keberlanjutan reformasi birokrasi.  Keberhasilan reformasi birokrasi BPSDM tahun 2025 dapat dilihat dari capaian indikator evaluasi reformasi birokrasi secara periodik. Capaian kinerja perangkat daerah memperoleh nilai maksimal, yang menunjukkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan program berjalan selaras. Tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK RI juga memperoleh nilai penuh, mencerminkan komitmen terhadap akuntabilitas dan kepatuhan terhadap rekomendasi audit.

Pada aspek pengawasan internal, tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan APIP menunjukkan nilai yang tinggi. Hal ini menandakan bahwa mekanisme pengendalian internal berjalan cukup efektif. Meskipun demikian, masih terdapat ruang perbaikan untuk mencapai nilai optimal. Laporan realisasi anggaran APBD juga menunjukkan kinerja yang baik, dengan tingkat penyerapan yang relatif tinggi dan pengelolaan anggaran yang lebih tertib.  Dari sisi pelayanan publik, nilai survei kepuasan masyarakat berada pada kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa layanan yang diberikan BPSDM mulai dirasakan manfaatnya oleh pengguna layanan. Pemanfaatan sistem pengadaan barang dan jasa juga menunjukkan tingkat kepatuhan yang tinggi, sejalan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Kepatuhan terhadap penggunaan produk dalam negeri turut memperkuat dukungan terhadap kebijakan nasional.

Indeks profesionalitas ASN menjadi salah satu capaian penting dalam reformasi birokrasi BPSDM. Nilai yang diperoleh menunjukkan bahwa upaya peningkatan kompetensi ASN melalui pelatihan dan pengembangan berjalan cukup efektif. Hal ini sejalan dengan mandat BPSDM sebagai institusi pengembangan sumber daya manusia aparatur. Profesionalitas ASN menjadi kunci keberhasilan reformasi birokrasi secara keseluruhan.  Pada indikator evaluasi reformasi birokrasi secara parsial, BPSDM mencatat sejumlah capaian strategis. Nilai SAKIP perangkat daerah berada pada kategori sangat baik, menunjukkan konsistensi antara perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan kinerja. Tingkat kematangan SPBE juga berada pada kategori tinggi, menandakan bahwa digitalisasi proses kerja bukan hanya formalitas, tetapi telah menjadi bagian dari sistem kerja. Penyelenggaraan statistik sektoral dan kualitas penyusunan produk hukum memperoleh nilai maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa BPSDM memiliki kapasitas yang baik dalam pengelolaan data dan regulasi. Data yang valid dan regulasi yang berkualitas menjadi fondasi penting dalam pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan yang efektif.

Pada indikator capaian dampak pelaksanaan reformasi birokrasi, BPSDM memperoleh nilai maksimal pada strategi penanganan isu aktual. Hal ini menunjukkan bahwa reformasi birokrasi tidak berhenti pada perbaikan internal, tetapi juga berdampak pada kemampuan organisasi dalam merespons isu strategis yang berkembang. BPSDM mampu menyesuaikan kebijakan dan programnya dengan dinamika kebutuhan daerah.

Meskipun demikian, reformasi birokrasi BPSDM tahun 2025 masih menghadapi sejumlah kelemahan yang perlu dicermati secara jujur. Tingkat keberhasilan pembangunan zona integritas masih berada pada nilai rendah. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pembangunan zona integritas belum sepenuhnya terinternalisasi dalam budaya kerja organisasi. Pembangunan zona integritas masih membutuhkan penguatan pada aspek komitmen dan konsistensi.


Indeks budaya kerja ASN BerAKHLAK juga menunjukkan nilai yang belum optimal. Nilai-nilai BerAKHLAK belum sepenuhnya terwujud dalam perilaku kerja sehari-hari. Hal ini menjadi tantangan serius karena budaya kerja merupakan jantung dari reformasi birokrasi. Tanpa perubahan budaya, reformasi birokrasi berisiko menjadi sekadar pemenuhan indikator.

Evaluasi pelayanan publik dan indeks kualitas kebijakan publik juga masih berada pada kategori sedang. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kualitas kebijakan dan layanan belum sepenuhnya dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Proses penyusunan kebijakan masih perlu diperkuat dengan pendekatan berbasis data dan kebutuhan pengguna layanan.

Tingkat tindak lanjut pengaduan masyarakat melalui kanal pengaduan juga masih memerlukan perhatian. Respons terhadap pengaduan harus lebih cepat, tepat, dan transparan. Pengelolaan pengaduan yang baik akan meningkatkan kepercayaan publik dan menjadi indikator penting keberhasilan reformasi birokrasi.

Digitalisasi arsip menunjukkan kemajuan, tetapi belum sepenuhnya merata di seluruh unit kerja. Standarisasi pengelolaan arsip digital masih perlu diperkuat agar data dan dokumen dapat diakses secara mudah dan aman. Digitalisasi arsip bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan cara kerja dan disiplin administrasi. Pada aspek pengelolaan keuangan, realisasi belanja BPSDM tahun 2025 mencapai lebih dari sembilan puluh dua persen. Angka ini menunjukkan kinerja serapan anggaran yang baik dan mencerminkan perencanaan yang relatif matang. Belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta belanja modal secara umum berada pada kategori baik, meskipun belanja modal masih menyisakan ruang perbaikan.

Realisasi pendapatan daerah berada pada kisaran lima puluh sembilan persen. Variasi capaian antar jenis pendapatan menunjukkan adanya potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Hasil kerja sama daerah, sewa BMD, dan retribusi pemakaian ruang masih perlu dioptimalkan melalui strategi yang lebih adaptif dan realistis.

Secara keseluruhan, reformasi birokrasi BPSDM Jawa Barat tahun 2025 dapat disimpulkan berjalan pada jalur yang benar. Peningkatan indeks reformasi birokrasi, penguatan tata kelola, dan konsistensi pengendalian internal menjadi modal penting bagi keberlanjutan reformasi. Keberhasilan yang dicapai menunjukkan bahwa organisasi mampu belajar dan beradaptasi.

Namun, keberhasilan tersebut tidak boleh menimbulkan rasa puas diri. Reformasi birokrasi adalah proses jangka panjang yang menuntut komitmen berkelanjutan. Setiap capaian harus dijadikan pijakan untuk perbaikan berikutnya. Fokus utama ke depan adalah memperkuat aspek budaya kerja, kualitas pelayanan publik, dan kualitas kebijakan. Tindak lanjut reformasi birokrasi BPSDM pada tahun berikutnya perlu diarahkan secara lebih tajam. Penguatan zona integritas harus dilakukan melalui pendekatan sistemik dan berkelanjutan. Indeks budaya kerja ASN BerAKHLAK perlu ditingkatkan melalui keteladanan pimpinan dan sistem manajemen kinerja yang adil.  Selain itu, kualitas pelayanan publik dan kebijakan publik harus ditingkatkan dengan melibatkan pengguna layanan secara aktif. Pengelolaan pengaduan masyarakat perlu diperbaiki agar menjadi sumber pembelajaran organisasi. Digitalisasi arsip dan optimalisasi pendapatan daerah juga harus menjadi prioritas strategis.

Dengan tindak lanjut yang terarah dan konsisten, reformasi birokrasi BPSDM Jawa Barat tidak hanya akan mempertahankan predikat memuaskan, tetapi juga menghasilkan dampak nyata bagi peningkatan kualitas ASN dan pelayanan publik di Jawa Barat. Reformasi birokrasi pada akhirnya bukan tentang nilai, tetapi tentang perubahan cara kerja yang lebih efektif, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan publik.

 

sumber ; bahan apel pagi Sesban BPSDM Jabar #29 Des 2025

Komentar