GARDU HIJAU BPSDM JAWA BARAT
Gerakan Asri dan Rapi untuk Dunia yang Hijau dan Unggul
Gardu Hijau lahir dari kesadaran bahwa lingkungan kerja ASN tidak cukup hanya tertib secara administratif, tetapi juga harus sehat secara ekologis.
BPSDM Jawa Barat sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia aparatur memikul tanggung jawab untuk memberi contoh nyata, bukan hanya menyampaikan materi pelatihan.
Lingkungan belajar yang hijau diyakini mampu menumbuhkan pikiran yang jernih, sikap yang tenang, dan keputusan yang lebih berimbang.
Dalam konteks itulah Gerakan Asri dan Rapi untuk Dunia yang Hijau dan Unggul atau GARDU HIJAU dirumuskan dan dijalankan.
Gerakan ini bukan sekadar slogan yang berhenti di spanduk atau poster dinding.
GARDU HIJAU dirancang sebagai aksi nyata yang bisa dilihat, dirawat, dan diukur hasilnya.
Isu perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan berkurangnya ruang hijau menjadi latar yang tidak bisa diabaikan.
ASN tidak seharusnya hanya menjadi penonton yang pandai menyusun laporan.
ASN harus ikut menanam, merawat, dan menjaga. BPSDM Jawa Barat memiliki lahan terbuka yang potensial untuk dikembangkan sebagai ruang hijau produktif. Halaman belakang kampus BPSDM kemudian dipilih sebagai lokasi awal gerakan ini.
Musim penghujan menjadi momentum yang tepat karena alam ikut memberi dukungan. Tanah yang basah menjadi awal yang baik bagi tumbuhnya bibit dan harapan.
Program GARDU HIJAU pada hakikatnya tidak lahir secara tiba-tiba.
Gerakan ini merupakan inisiasi langsung dari Kepala BPSDM Jawa Barat, Dr. Ika Mardiah.
Beliau memandang bahwa pembangunan kualitas ASN harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan. Menurut beliau, tidak masuk akal berbicara kepemimpinan berkelanjutan tanpa praktik keberlanjutan yang nyata. GARDU HIJAU kemudian dirumuskan sebagai simbol sekaligus aksi. Bukan kebijakan di atas kertas, melainkan kebijakan yang benar-benar menyentuh tanah.
Dr. Ika Mardiah mendorong agar BPSDM tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga contoh perilaku. Arahan beliau jelas, lingkungan kerja harus hidup, hijau, dan memberi energi positif.
Inisiasi tersebut mendapat dukungan penuh dari Sekretaris BPSDM Jawa Barat, Bapak Yudi Kuncoro.
Dukungan ini tidak berhenti pada persetujuan administratif.
Bapak Yudi Kuncoro dikenal memiliki hobi menanam pohon.
Baginya, menanam bukan sekadar kegiatan fisik, tetapi bentuk refleksi dan kesabaran.
Hobi tersebut menemukan ruang aktualisasinya dalam program GARDU HIJAU.
Beliau memahami bahwa merawat pohon sama dengan merawat proses pembangunan.
Tidak bisa tergesa-gesa dan tidak bisa asal-asalan.
Keterlibatan pimpinan memberi pesan kuat bahwa program ini serius dan berjangka panjang.
Penghijauan tidak diposisikan sebagai kegiatan tambahan, melainkan bagian dari budaya kerja.
Dengan dukungan pimpinan, GARDU HIJAU memiliki legitimasi moral dan organisatoris yang kuat.
Maksud
Program GARDU HIJAU dimaksudkan sebagai gerakan kolektif yang mengintegrasikan nilai kepemimpinan, kepedulian lingkungan, dan keteladanan ASN. Penanaman pohon dilakukan sebagai investasi ekologis jangka panjang, bukan kegiatan seremonial. Melalui program ini, BPSDM ingin menegaskan bahwa pengembangan SDM tidak boleh terlepas dari relasi manusia dengan alam.
Saya, Budy Hermawan, selaku Ketua APWI Jawa Barat, memandang bahwa integritas ASN juga tercermin dari cara memperlakukan lingkungannya. Menanam pohon adalah bentuk kejujuran terhadap masa depan. Setiap lubang tanam adalah komitmen, bukan formalitas. Program ini juga dimaksudkan untuk memperkuat kolaborasi lintas unsur di lingkungan BPSDM. Saat menanam, tidak ada sekat jabatan. Semua setara di hadapan tanah, hujan, dan kerja bersama.
Tujuan
Tujuan utama GARDU HIJAU adalah menciptakan lingkungan BPSDM yang asri, produktif, dan edukatif.
Sebanyak kurang lebih 150 pohon kopi Arabika jenis Sigararutang ditanam sebagai simbol ketekunan dan kesabaran. Kopi dipilih karena tidak tumbuh tergesa-gesa, sama seperti membangun karakter ASN. Sebanyak 20 pohon jeruk Garut yang manis ditanam sebagai harapan akan hasil yang dapat dinikmati bersama. Jeruk Garut dipilih karena merupakan produk lokal yang adaptif dan membanggakan. Sebanyak 5 pohon alpukat jenis Miki ditanam sebagai simbol kualitas.
Sebanyak 4 pohon durian mentega ditanam sebagai lambang keberanian menunggu hasil besar dari proses panjang. Seluruh pohon ditanam di area halaman belakang kampus BPSDM Jawa Barat secara terencana. Penanaman dilakukan tepat waktu, bersamaan dengan musim penghujan agar tingkat keberhasilan hidup tanaman optimal.
Dalam pelaksanaannya, penanaman dibantu oleh Mang Gunawan, pemelihara kebun BPSDM, yang memahami karakter tanah dan pola perawatan. Mang Asep Ebol, penjaga kebersihan BPSDM, turut membantu dengan ketekunan dan konsistensi. Peran mereka menjadi bukti bahwa kontribusi nyata sering lahir dari kerja yang senyap. Bibit jeruk Garut dibeli bersama-sama dengan alumni PKA Jawa Barat Angkatan III, sebagai simbol kesinambungan nilai pembelajaran. Sementara itu, pohon kopi, alpukat, dan durian merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan Jawa Barat.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa kerja lingkungan membutuhkan sinergi lintas lembaga.
Manfaat
Kesimpulan
GARDU HIJAU BPSDM Jawa Barat bukan proyek singkat, melainkan proses jangka panjang yang dimulai dari langkah sederhana.
Menanam pohon adalah pekerjaan sunyi yang hasilnya tidak bisa dinikmati seketika. Namun justru di situlah nilai kepemimpinan diuji. Program ini menunjukkan bahwa ASN mampu berpikir jauh ke depan.
BPSDM Jawa Barat tidak hanya mencetak aparatur yang kompeten, tetapi juga manusia yang peduli.
Dengan inisiasi pimpinan, dukungan penuh manajemen, kolaborasi lintas unsur, serta ketepatan waktu pelaksanaan, lingkungan dapat dipulihkan secara bertahap.
Sekitar tiga tahun ke depan, ketika pohon-pohon itu mulai berbuah, cerita ini akan berlanjut.
Dan saat itu tiba, GARDU HIJAU bukan lagi sekadar gerakan, melainkan warisan.
Catatan akhir tahun 2025
.jpeg)
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar