Peran Widyaiswara dalam Menegakkan Integritas
catatan kecil Budy Hermawan dalam rangka Peringatan
Hari Antikorupsi Se-Dunia (Harkodia) Tahun 2025
Di tengah keruwetan birokrasi dan derasnya tuntutan publik terhadap pelayanan yang bersih, Widyaiswara sering ditempatkan sebagai sosok pendidik yang tugasnya “mengajar saja”. Padahal posisinya jauh lebih strategis: ia adalah penjaga nilai, penabuh genderang moral, dan pengawal etika bagi ASN yang sedang atau akan menjalankan amanah negara.
Dalam berbagai program penguatan
integritas ASN; selalu ada pesan inti: korupsi, sekecil apa pun bentuknya,
adalah virus nilai. Ia merusak sistem perlahan, membuat penyimpangan tampak
normal, dan akhirnya menggerogoti kualitas pelayanan publik.
Karena itu, Widyaiswara berada di
garda terdepan untuk mencegah virus itu menyebar.
Integritas: Bukan Teori, Tapi Pilihan Harian
Pesan Harkodia di Yogyakarta yang dilaksanakan pada tanggal 7-9 Desember
2025 ; terdapat penegasan bahwa korupsi
tidak selalu berupa aksi spektakuler miliaran rupiah. Bentuk paling
sederhananya bisa berupa:
ü menyalahgunakan
fasilitas kantor,
ü mengambil
keuntungan pribadi dari jabatan,
ü menerima
gratifikasi kecil,
ü atau
membiarkan konflik kepentingan berjalan seolah hal biasa.
Dan sering kali, penyimpangan itu dimulai dari hal sepele.
Di sinilah Widyaiswara memainkan
peran vital: membuka mata ASN bahwa integritas adalah pilihan harian.
Bukan hanya di rapat besar, tetapi dalam tindakan kecil, keputusan sederhana,
bahkan dalam cara seseorang menghargai waktunya sendiri. Pelajaran tentang
integritas akan kosong jika hanya berhenti di teks modul. Ia harus dibumikan
lewat contoh nyata, keteladanan, dan keberanian moral.
Widyaiswara sebagai Teladan: Nilai yang Dihidupkan,
Bukan Dibacakan
Integritas paling mudah dilihat dari cara seseorang bersikap. Widyaiswara tidak bisa menyampaikan materi anti-korupsi sambil sendiri melakukan praktik yang bertentangan.
Ketika ia:
ü menolak
“amplop terimakasih”,
ü menjaga batas
profesional dengan peserta,
ü menyampaikan
data apa adanya,
ü dan jujur
dalam setiap administrasi pelatihan,
maka ia sedang menegakkan integritas tanpa harus menyebut kata itu.
Tetapi ada satu bentuk penyimpangan integritas yang sering terjadi di
lingkungan pelatihan ASN, dan sayangnya jarang dibicarakan secara terbuka.
Mari kita bahas secara jujur.
Mengajar Tidak Sesuai Keahlian Demi JP atau Honor: Sebuah Penyimpangan Integritas
Fenomena ini ada, nyata, dan kadang dianggap “maklum saja”.
Seorang Widyaiswara menerima tugas mengajar di bidang yang jelas bukan
keahliannya. Ia paham materinya tidak dikuasai, ia tahu kualitasnya tidak akan
optimal, tetapi ia tetap maju mengajar—bukan untuk memberi manfaat, melainkan
demi mengejar JP (Jam Pelajaran) atau honor.
Ini bukan sekadar pelanggaran etika profesional.
Ini adalah perilaku penyimpangan integritas.
Mengapa?
- Mengkhianati
amanah profesi.
Widyaiswara diberi kepercayaan untuk mengajar karena keahliannya. Jika ia mengambil kelas di luar kompetensi hanya demi tambahan poin, maka ia sedang membohongi peserta, lembaga, dan negara. - Merugikan
kualitas pembelajaran ASN.
Peserta pelatihan datang untuk belajar, bukan untuk mendengar orang membaca slide. Ketika materi tidak dikuasai, yang dikorbankan adalah kualitas ASN yang sedang dibina. - Menyuburkan
budaya pragmatis dan oportunis.
“Yang penting JP-nya dapat, honornya masuk.”
Kalimat ini adalah virus kecil yang jika dibiarkan, lama-lama akan merusak sistem penjaminan mutu pelatihan ASN. - Bentuk
penyalahgunaan kewenangan.
Mengambil penugasan yang tidak layak hanya karena kesempatan terbuka sama saja seperti memanfaatkan jabatan demi keuntungan pribadi.
Integritas yang kuat menuntut keberanian untuk berkata:
“Saya tidak kompeten di bidang itu. Berikan kepada yang lebih ahli.”
Menghindari tugas yang tidak sesuai keahlian bukan kelemahan, tetapi
justru bentuk penghormatan terhadap profesi dan komitmen terhadap mutu.
Ruang Pelatihan sebagai Ekosistem Integritas
Pelatihan ASN harus menjadi miniatur birokrasi yang bersih. Di ruang
itulah nilai diuji, dibahas, dan dipraktikkan. Widyaiswara mengatur ritme dan
atmosfer pembelajaran: dari diskusi kasus, simulasi konflik kepentingan, sampai
humor ringan yang menyentil realitas birokrasi.
Setiap aktivitas pelatihan adalah kesempatan untuk menanamkan budaya:
ü jujur,
ü tidak
menerima gratifikasi,
ü menolak
titipan,
ü dan bekerja
sesuai mandat.
Widyaiswara yang baik tidak hanya menyampaikan modul, tetapi menciptakan
pengalaman belajar yang membentuk sikap.
Widyaiswara juga berfungsi sebagai pembentuk kesadaran bahwa integritas bukan hanya kewajiban moral, tetapi strategi bertahan hidup dalam birokrasi modern. ASN yang berintegritas lebih tenang hidupnya, lebih kuat kariernya, dan lebih dihormati rekan kerja maupun publik.
Melalui Peringatan Harkodia, ada gagasan sederhana namun mengena:
mengurangi korupsi dimulai dari menolak hal kecil.
Widyaiswara mengubah gagasan itu menjadi percakapan sehari-hari—membahas
dilema, memberi contoh, dan menantang peserta untuk bersikap.
Widyaiswara sebagai Pengawal Sistem
Peran Widyaiswara tidak berhenti di kelas. Ia harus menjadi pengingat
bagi lembaganya sendiri. Jika ada sistem pelatihan yang rawan penyimpangan, ia
harus berani mengoreksi. Jika ada kebijakan yang melemahkan nilai, ia wajib
memberi catatan.
Widyaiswara berfungsi sebagai “indera moral” dari organisasi. Ia melihat
potensi penyimpangan lebih cepat karena setiap hari berurusan dengan standar
etika dan contoh kasus.
Ketika ada penugasan yang tidak sesuai keahlian, ketika honor
diprioritaskan daripada mutu, atau ketika konflik kepentingan mulai dianggap
biasa—Widyaiswara harus menjadi pihak pertama yang berkata: Stop. Ini
melanggar integritas.
Membangun Budaya Malu Melakukan Penyimpangan
Budaya integritas lahir dari budaya malu terhadap penyimpangan.
Widyaiswara dapat menciptakannya melalui cerita ringan, contoh tajam, atau
kalimat singkat yang mengena:
ü “Gratifikasi
itu bukan hadiah, tapi jebakan manis.”
ü “Mengajar
tidak kompeten demi honor? Itu korupsinya Widyaiswara.”
ü “Kalau
integritas hanya teori, peserta akan tertawa setelah kelas bubar.”
Kalimat-kalimat seperti itu membuat pesan moral melekat tanpa terasa
menggurui.
Integritas Sebagai Harga Diri Widyaiswara
Pada akhirnya, peran Widyaiswara dalam menegakkan integritas bukan
sekadar menyampaikan materi, tetapi:
ü menghidupkan
nilai,
ü menjaga mutu,
ü mengawal
budaya,
ü dan menolak
penyimpangan—bahkan penyimpangan kecil seperti mengambil kelas di luar keahlian
demi mengejar JP dan honor.
Jika Widyaiswara memegang teguh kompas integritas, maka peserta akan
mengikuti. Budaya organisasi akan berubah. Sistem akan menguat. Dan birokrasi
akan bergerak menuju pelayanan publik yang bersih dan dipercaya.
Integritas bukan slogan.
Bukan pula modul yang dibacakan.
Integritas adalah harga diri.
Dan Widyaiswara adalah penjaganya.
Bandung, 10 Desember 2025

.png)


Komentar
Posting Komentar