Perjalanan Sore, Obrolan Panjang: Dari Antapani ke Mountain Dew Resort Sumedang
Rabu sore, 24 Desember 2025, langit Bandung tampak mendung,
tetapi di rumah kami di Sulaksana, Antapani, ada rasa ingin pergi yang tidak
bisa ditunda. Tepat pukul 14.40 WIB, sebuah HRV hitam mulai bergerak
meninggalkan halaman rumah. Saya duduk di kursi pengemudi, sementara istri
duduk di jok depan, tepat di sebelah saya. Posisi ini membuat suasana terasa
lebih akrab. Kami bisa berbincang ringan tanpa harus meninggikan suara,
sesekali saling mengingatkan untuk menikmati perjalanan.
Di jok belakang, Anisa dan Anita sudah siap dengan
dunia mereka sendiri. Perjalanan dimulai menyusuri Jalan Terusan Jakarta, lalu
berlanjut ke Jalan Ibrahim Adjie dan Soekarno-Hatta. Lalu lintas cukup
bersahabat. Tidak terlalu macet, tidak juga lengang. Saya menyetir dengan
santai, ditemani obrolan kecil dengan istri tentang rencana akhir tahun,
pekerjaan yang sebentar lagi memasuki fase tutup buku, dan harapan agar awal
tahun depan berjalan lebih tenang.
Yang menarik, suasana di jok belakang kali ini berbeda dari biasanya. Anita, yang hampir selalu tertidur jika perjalanan lebih dari satu jam, justru tetap terjaga. Ia ngobrol tanpa jeda dengan Anisa. Topik pembicaraan mereka langsung berat: rencana liburan akhir tahun. Anisa sempat mengusulkan Solo dan Yogyakarta, lengkap dengan alasan wisata budaya. Anita lebih realistis, Jakarta saja sudah cukup asal bisa jalan-jalan dan jajan. Perdebatan ringan itu diiringi tawa, tanpa ada yang benar-benar ingin menang.
Masuk Tol Buah Batu, perjalanan terasa lebih lancar.
Kami singgah di Rest Area KM 147 untuk menunaikan sholat Ashar. Masjid di rest
area itu terasa tenang, memberi jeda yang pas sebelum perjalanan dilanjutkan.
Setelah sholat, kami kembali ke mobil dengan badan sedikit lebih ringan dan
pikiran lebih jernih.
Memasuki Tol Cisumdawu, suasana berubah. Jalan tol
masih relatif sepi, mulus, dan terasa baru. Saat memasuki terowongan Cisumdawu,
obrolan anak-anak sempat terhenti sejenak, lalu berlanjut dengan topik yang
lebih serius. Anita mulai bercerita tentang rencana KKN-nya. Awal Januari 2026,
ia akan berangkat ke Desa Sanca, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu.
Nada suara Anita terdengar campur aduk antara antusias dan sedikit cemas. Ia membayangkan tinggal di desa, menghadapi panas Indramayu yang katanya berbeda dengan Bandung, dan beradaptasi dengan masyarakat setempat. Anisa menanggapi dengan gaya kakak yang sok berpengalaman, memberi saran soal menjaga sikap, berkomunikasi dengan warga, hingga urusan logistik sederhana. Saya dan istri saling pandang dari kursi depan, diam-diam mendengarkan, sambil sesekali ikut menimpali.
Istri memberi nasihat singkat, lembut, khas seorang
ibu. Saya menambahkan komentar praktis, ala orang tua yang lebih banyak
mengingatkan kesiapan mental. Anita mendengarkan dengan serius. Tidak ada
tanda-tanda mengantuk. Perjalanan ini seolah menjadi ruang aman baginya untuk
bercerita dan berpikir tentang fase baru hidupnya.
Keluar Tol Kota Sumedang, kami melanjutkan perjalanan
menuju Sumedang Selatan. Jalan mulai menanjak, udara terasa lebih sejuk. Tujuan
kami adalah Mountain Dew Resort, sebuah tempat yang baru kami kenal dari media
sosial. Rasa penasaran mendorong kami untuk melihat langsung. Sekitar pukul
17.10 WIB, kami tiba di lokasi.
Mountain Dew Resort berada di dataran atas, dengan
pemandangan kota Sumedang yang terbentang di kejauhan. Udara bersih, sejuk, dan
suasananya tenang. Setelah memesan minuman dan camilan, kami berkeliling area
resort. Tersedia berbagai pilihan resort dan glamping dengan harga bervariasi,
dari enam ratus ribu hingga satu setengah juta rupiah per malam. Kolam
renangnya tampak bersih dan segar.
Seperti kebiasaan keluarga, sesi foto dimulai. Anisa
sibuk mengatur pose, Anita sedikit mengeluh karena angin dingin, istri
tersenyum sabar, dan saya berperan sebagai fotografer sekaligus pengingat
waktu. Kembali ke kafe, pesanan sudah siap. Wedang uwuh madu mengepul hangat,
latte dingin dan kopi gula aren tersaji rapi, ditemani pisang keju dan
bala-bala. Anita masih puasa, jadi hanya menunggu dengan sabar.
Setelah magrib, Anita berbuka dengan minum matcha
hijau dan camilan yang ada. Wajahnya langsung cerah. Kami sepakat untuk makan
malam di RM Jembar Manah, tidak jauh dari lokasi, dekat patung kuda Sumedang
Selatan. Menu sederhana namun memuaskan: sop hangat, ayam, lauk pauk, dan tentu
saja tahu Sumedang yang tidak boleh absen.
Usai makan malam, kami bersiap kembali ke Bandung.
Perjalanan pulang menyusuri Cadas Pangeran terasa cukup padat. Lampu kendaraan
memanjang, tapi suasana di mobil tetap hangat. Kami melewati Tanjungsari,
Jatinangor, Cileunyi, Ujung Berung, hingga akhirnya tiba kembali di Antapani
sekitar pukul 21.30 WIB.
Hari itu tidak mewah, tidak spektakuler. Namun perjalanan singkat tersebut cukup untuk menyegarkan hati dan pikiran. Lebih dari sekadar jalan-jalan, perjalanan ini menjadi ruang kebersamaan, obrolan keluarga, dan saksi kecil tumbuhnya rencana-rencana baru dalam hidup anak-anak kami.
Bandung, akhir tahun 2025
catatan kecil-koe



Komentar
Posting Komentar