TURING MOTOR BAKTI SOSIAL BPSDM JAWA BARAT
Bandung – Cisolok – Bandung, Sabtu 29 November 2025
Pagi di Gedung Sate: Start, Sarapan, dan Suasana Guyub
Sabtu pagi, Bandung terasa lebih ramah dari biasanya. Langit cerah, udara sejuk, dan halaman depan Gedung Sate tampak tenang. Di sanalah kami, rombongan kecil berisi enam motor, memulai turing sekaligus misi bakti sosial menuju Cisolok.
Namun sebelum mesin dipanaskan, ada
satu agenda yang tak boleh dilupakan.
“Pa Budy, aturan turer sejati: isi
perut dulu, baru isi bensin,” celetuk Pa Haji Mumuh sambil menunjuk warung
kupat sayur di sebelah Gedung Sate.
Kami pun menyerbu warung itu. Aroma
kuah sayur gurih dengan bumbu kacang langsung bikin fokus hilang dari motor.
Pa Sutarli sudah duduk duluan. “Kalau
kupatnya ditambah kerupuk, ini sumber tenaga nasional, Pa.”
Pa Doktor Adang terkekeh. “Saya pesan dua porsi. Jalan Bandung—Cisolok
bukan main-main.”
Pa Talina mengaduk sambal kemudian berkata, “Tenang, Pa. Ini baru CPNS
dalam dunia turing: Coba Perut Sebelum motor.”
Tawa meledak. Sarapan kupat sayur itu benar-benar jadi booster
suasana. Kita makan santai, tapi tetap sadar waktu. Jam 07.15 selesai, bayar,
lalu kembali ke area start.
Tepat pukul 07.30 WIB, semua mesin dinyalakan. Deru knalpot menyatu
dengan semangat kami. Perjalanan pun resmi dimulai.
Bandung – Cimahi – Padalarang: Pemanasan Rute dan Canda Turing
Keluar Bandung menuju Cimahi, lalu
Padalarang, lalu Cipatat—alur klasik yang selalu menyimpan cerita.
“Kecepatan aman saja, Pa. Jangan gaya
MotoGP dulu,” ujar saya via interkom.
“Tapi kalau ada yang nyalip sambil
sok gaya, itu biasanya Pa Haji,” timpal Pa Talina.
Pa Haji Mumuh langsung menyahut, “Saya mah santun, yang penting selamat
sampai tujuan. Tapi kalau ada yang ngajak balap… ya kita lihat nanti.”
Semua tertawa. Jalanan cukup ramai, tapi rombongan tetap rapi dalam
formasi dua-dua.
Ciranjang – Cianjur Kota – Warung Kondang: Menjemput Rekan dari Cianjur
Begitu masuk Ciranjang, udara makin hangat, tapi jalannya cukup lancar. Di Cianjur Kota kami sempat memperlambat laju karena ingin memastikan waktu tiba di Warung Kondang sesuai rencana.
Di Warung Kondang, kami menjemput Pa
Talina—Widyaiswara dari Cianjur—yang sudah menunggu sambil ngopi.
“Ah, akhirnya rombongan Bandung
datang juga,” katanya sambil menepuk bahu saya.
“Kami baru isi energi kupat sayur,
Pa. Maaf lima menit molor,” jawab saya.
“Pantes wangi bumbu kacang,” canda Pa
Talina.
Setelah salam-salaman dan pengecekan
cepat, perjalanan dilanjutkan menuju Sukaraja lalu Sukabumi Kota.
Sukabumi – Cikembar – Warung Kiara – Bantargadung: Jalan Panjang, Humor Panjang
Masuk jalur Sukabumi, jalan mulai
padat. Di titik tertentu harus sabar karena truk pasir beriringan. Tapi sambil
pelan, kami tetap bersenda gurau lewat interkom.
Pa Doktor Adang berkata, “Kalau macet
gini, saya jadi ingat skripsi mahasiswa, Pa. Panjang tapi isinya belum tentu
penting.”
Saya sahut, “Tenang, Pa. Yang penting
bukan skripsinya—tapi lulusnya.”
Setelah melewati Sukabumi, jalanan
mulai terbuka. Cikembar – Warung Kiara – Bantargadung memberi kombinasi
tikungan panjang, tanjakan halus, dan pemandangan hijau segar. Di sinilah rasa
touring-nya muncul.
“Pa Budy, ini rute bikin lupa cicilan,” kata Pa Sutarli.
“Betul, tapi kalau lupa keluarga jangan,” timpal Pa Talina.
Tawa pecah lagi.
Menuju Palabuhanratu – Cisolok: Angin Laut dan Rasa Lelah yang Terbayar
Masuk kawasan Palabuhanratu, aroma
laut mulai terasa. Angin lembab tapi menenangkan. Motor kami berjalan pelan
menikmati pemandangan gelombang yang memantul ke dinding bukit.
“Ini bagian favorit saya,” ujar Pa
Haji Mumuh. “Kalau ada waktu, saya mau tinggal dua hari di sini.”
“Siap Pa, nanti kita bangunkan tiap
azan,” kata saya.
Akhirnya sekitar pukul 13.20 kami
memasuki wilayah Cisolok. Perjalanan enam jam itu terasa padat, namun tidak
berat.
Makan Siang di Pantai Citepus: Udang Saos Tiram Hingga
Ikan Salem
Kami langsung menuju Warung Bakar Ikan Suparman di Pantai Citepus. Meja panjang disiapkan, angin laut menerpa, dan perut mulai protes minta diisi.
“Udang saos tiram dua porsi, bawal bakar satu, ikan salem satu,” kata
saya.
Pa Doktor Adang menambahkan, “Sambal jangan pelit. Nanti semangat turing
turun.”
Setelah makanan datang, hening lima menit. Semua fokus menghabiskan
hidangan—tanda masakan itu sukses besar.
Pa Sutarli menatap udang terakhir. “Ini kalau dibawa pulang pasti jadi
rebutan di rumah.”
“Tapi tangan cepat mengalahkan niat mulia, Pa,” ucap Pa Talina sambil
meraih udang itu cepat.
Semua tertawa sampai meja berguncang.
Penyerahan Donasi: Inti dari Perjalanan
Selesai makan, kami menuju Kantor Kecamatan Cisolok. Camat Cisolok, Bapak Okih Fajri, sudah menunggu.
Donasi dari para Widyaiswara, Peserta PKA angkatan VI , dan Alumni Diklat Pim
III resmi kami serahkan. Donasi ini untuk warga Cisolok yang terdampak banjir
beberapa waktu sebelumnya. Donasi berupa uang tunai sebesar Rp 7,5 juta serta peralatan perlengkapan lainnya yg dibutuhkan oleh masyarakat Cisolok
Pak Camat berkata, “Kami sangat berterima kasih. Bantuan ini sangat
berarti bagi masyarakat.”
Saya menjawab, “Ini bentuk kecil kepedulian kami. Semoga bisa
meringankan.”
Momen itu sederhana namun penuh makna. Kami foto bersama, lalu
berbincang sejenak tentang kondisi wilayah pasca bencana.
Rencana Menginap yang Mendadak Batal
Awalnya kami berniat menginap semalam di Cisolok. Tetapi Pa Sutarli
mendapat kabar bahwa ia harus kembali untuk persiapan pembukaan Satpel MBG.
“Pa Budy, kayaknya saya harus balik hari ini. Ada urusan penting,”
katanya.
Tanpa ragu kami semua sepakat kembali sore itu juga. Kebersamaan lebih
utama daripada memaksakan jadwal.
Perjalanan Pulang: Dua Persinggahan Penting yang Menyegarkan
1) Berhenti di Glas House Café– Sukabumi Kota
Makan Malam + Minuman Penyegar
Sekitar Magrib kami tiba di Sukabumi Kota. Lampu-lampu mulai menyala,
jalanan masih ramai, dan perut sudah mulai meminta jatah.
“Pa, kita berhenti makan dulu. Tadi makan siang jam satu, sekarang sudah
gelap,” usul Pa Doktor Adang.
Kami memilih berhenti di Glass House, sebuah tempat makan di jalur utama
Sukabumi Kota. Tempatnya terang, bersih, dan cocok untuk rombongan motor.
Menu kami sederhana: nasi goreng, mie rebus, ayam bakar, dan tentu saja minuman
penyegar—es kelapa, es jeruk, es campur, sampai jus alpukat.
Pa Haji Mumuh menatap gelas es kelapa besar dan berkata, “Ini baru
pendingin resmi setelah perjalanan panjang.”
Pa Talina menimpali, “Tenang Pa, es-nya halal.”
Kami tertawa geli.
Makan malam itu terasa hangat. Setelah kurang lebih 1 jam, dan setelah
sholat magrib plus Isya kami siap lanjut jalan.
2) Berhenti Kedua: Rajamandala – Menyantap Cingcau Es
yang Legendaris
Jalur Rajamandala sudah mulai gelap
dan udara cukup dingin, membuat tenggorokan butuh penawar. Maka ketika melihat
penjual cingcau es, kami langsung berhenti.
“Wah, ini favorit saya!” seru Pa
Sutarli walau sebenarnya sedang dikejar waktu.
Penjualnya tertawa melihat rombongan
motor penuh helm.
“Cingcau berapa, Pak?” tanyanya.
“Enam mangkok, tapi jangan sampai
bikin kami kedinginan seperti kulkas,” jawab saya.
Cingcau itu sungguh segar. Rasanya manis pas, dinginnya lembut, dan
membuat tubuh segar kembali.
Pa Doktor Adang mengangkat gelas dan berkata, “Ini baru namanya penutup
sah perjalanan.”
Kami setuju seratus persen.
Tiba di Bandung: Lelah, Puas, dan Penuh Rasa Syukur
Sekitar pukul 21.30 kami akhirnya memasuki Bandung lagi. Motor mulai
berhenti satu per satu, saling melambaikan tangan.
“Sampai Bandung, Pa. Turing hari ini komplit. Ada kupat, udang, donasi,
dua kali es, dan tentu… gelak tawa,” kata saya.
Pa Haji Mumuh menambahkan, “Dan yang penting, semua selamat.”
Kami berpelukan singkat, lalu berpencar menuju rumah masing-masing.
Penutup
Turing motor BPSDM Jawa Barat tanggal 29 November 2025 ini bukan hanya
tentang perjalanan panjang Bandung–Cisolok.
Bukan pula soal enam motor yang menembus jalur pegunungan, pesisir, dan kota.
Ini adalah cerita kebersamaan, bukti kepedulian, dan rangkaian
tawa yang menjaga energi tetap hidup.
Dari sarapan kupat sayur di Gedung Sate, makan siang di Pantai Citepus,
momen penyerahan donasi, hingga dua persinggahan pulang yang penuh canda—semua
menyatukan perjalanan ini menjadi pengalaman yang layak dikenang.
Jika nanti ada turing berikutnya, energi hari ini akan jadi modal
semangatnya.
Catatan kecil akhir November 2025
#salamPerubahan






Mantap Pak
BalasHapus