Tantangan BPSDM JAWA BARAT dalam Pelatihan Kepemimpinan ASN Jawa Barat di Masa Depan

Tantangan BPSDM JAWA BARAT dalam Pelatihan Kepemimpinan ASN Jawa Barat di Masa Depan

Oleh

Budy Hermawan

Pelatihan kepemimpinan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) bukan sekadar program formalitas atau ritual administratif semata. Ia adalah urat nadi peningkatan kapasitas birokrasi yang mampu beradaptasi dalam dinamika perubahan sosial, kemajuan teknologi, dan tuntutan pelayanan publik yang semakin kompleks. Di provinsi sebesar Jawa Barat, dengan lebih dari 50 juta penduduk, tantangan kepemimpinan ASN bukan hal sepele. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Barat memiliki mandat krusial: mencetak pemimpin-pemimpin birokrasi yang visioner, resilient, dan inovatif. Tapi di balik mandat mulia tersebut, realitas di tingkat penyelenggara pelatihan—widyaiswara—menghadapi problem struktural serius.

Empat tantangan utama muncul secara konsisten di BPSDM Jawa Barat:

  1. Rendahnya kualitas dan kuantitas widyaiswara
  2. Rendahnya pengalaman kepemimpinan widyaiswara
  3. Rendahnya semangat inovasi
  4. Rendahnya semangat kerja dan kolaborasi

Analisis berikut mencoba membongkar akar masalah dan merumuskan solusi strategis berbasis konsep Corporate University yang relevan dengan konteks transformasi organisasi di era disrupsi.

 

1. Rendahnya Kualitas dan Kuantitas Widyaiswara BPSDM Jawa Barat

Realita:

BPSDM Jawa Barat saat ini menghadapi defisit sumber daya widyaiswara yang kompeten secara kuantitas dan kualitas. Banyak widyaiswara masih berfokus pada aspek administratif diklat, sementara kompetensi pedagogis dan andragogis masih sangat bervariasi. Bahkan di beberapa materi inti seperti kepemimpinan strategis, change management, dan digital leadership, kompetensi widyaiswara belum cukup kuat dan seragam.

Penyebab:

a)       Proses rekrutmen widyaiswara yang belum berbasis kompetensi terukur

b)       Ketiadaan standar kompetensi widyaiswara yang terintegrasi

c)       Minimnya pengalaman praktek di ranah kepemimpinan organisasi

Efeknya? Peserta pelatihan sering mendapatkan materi yang bersifat jarak jauh dengan konteks realitas kerja ASN, kehilangan daya transformasi, dan cenderung bersifat “hektik” tanpa dampak jangka panjang.

 

2. Rendahnya Pengalaman Kepemimpinan Widyaiswara

Realita:

Tidak semua widyaiswara memiliki rekam jejak yang kuat dalam kepemimpinan eksekutif maupun manajerial. Banyak dari mereka ahli materi, tapi bukan pemimpin organisasi. Mereka pandai menyampaikan konsep, tapi kesulitan menjawab tantangan nyata ketika teori tidak cocok dengan budaya organisasi.

Dampak:

a)       Materi pelatihan kepemimpinan menjadi normatif, bukan aplikatif

b)       Widyaiswa sulit menjadi role model yang meyakinkan

c)       Peserta ragu mengadopsi strategi yang belum pernah dibuktikan di lapangan

 

3. Rendahnya Semangat Inovasi Widyaiswara Jawa Barat

Realita:

Pelatihan ASN saat ini cenderung bersifat “katalog modul standar”—diambil dari buku, disampaikan satu arah, tanpa keterikatan dengan tantangan lokal Jawa Barat yang spesifik. Inovasi materi, metode pembelajaran baru (seperti pembelajaran hybrid, gamifikasi, studi kasus berbasis data lokal) masih sangat terbatas.

Kenapa Ini Jadi Masalah?

Karena zaman sudah berubah—ASN butuh kompetensi menyelesaikan masalah nyata, bukan sekadar mengetahui teori. Tanpa inovasi, pelatihan jadi usang, monoton, dan tanpa nilai tambah signifikan bagi peserta.

 

4. Rendahnya Semangat Kerja dan Kolaborasi Widyaiswara Jawa Barat

Realita:

Kerja widyaiswara sering berjalan sendiri-sendiri. Ada kecenderungan silo mindset antara unit, antara tenaga pengajar, dan antara bidang materi. Kolaborasi efektif—baik di internal BPSDM maupun lintas OPD—masih belum menjadi budaya kerja yang kuat.

Akibatnya:

a)    Program pelatihan kurang terpadu

b)    Tantangan peserta yang lintas sektor tidak terakomodasi

c)    Inisiatif terbaik tidak tersebar secara sistematis

Kolaborasi bukan sekadar “bekerja bersama,” tetapi berbagi praktik terbaik, co-design pelatihan, dan berbagi data untuk pembuatan kurikulum yang adaptif.

 

Solusi Strategis melalui Konsep Corporate University

Jika tantangan-tantangan di atas diibaratkan sebagai penyakit kronis, maka Corporate University adalah resep rehabilitasi struktural yang sistemik. Bukan sekadar sekolah internal, tetapi sebuah pendekatan kelembagaan pembelajaran terpadu.

Apa Itu Corporate University (Intinya)?

Corporate University adalah pendekatan pembelajaran organisasi yang:

1)       Fokus pada pengembangan kompetensi strategis organisasi,

2)       Terintegrasi langsung dengan visi dan tujuan bisnis/organisasi,

3)       Mempercepat alih pengetahuan, dan

4)       Mengubah pembelajaran menjadi sumber keunggulan kompetitif.

Konsep ini sudah dipakai oleh banyak organisasi besar di dunia untuk menjamin bahwa pendidikan internal bukan sekadar “pelatihan terpisah” tetapi bagian dari strategi organisasi.

 

Strategi Implementasi Corporate University di BPSDM Jawa Barat

1. Tetapkan Standar Kompetensi Widyaiswara Nasional dan Kontekstual Lokal

Bukan lagi “pukul rata” kompetensi widyaiswara. Harus diukur melalui:

a)       Framework kompetensi widyaiswara yang menggabungkan standar nasional dan kebutuhan lokal Jawa Barat.

b)       Sertifikasi kompetensi yang wajib ditempuh oleh semua widyaiswara.

Ini akan memaksa widyaiswara untuk naik standar—tidak boleh rendah lagi.

2. Bangun “Center of Excellence” Kepemimpinan ASN

BPSDM harus punya pusat kepakaran yang:

a)       Membuat kurikulum kepemimpinan terintegrasi

b)       Berkolaborasi dengan kampus dan think tank

c)       Menggunakan studi kasus nyata dari lingkungan pemerintahan Jawa Barat

Dengan kata lain: tidak lagi membeli modul siap-pakai dari vendor, tapi menghasilkan konten sendiri berdasarkan kebutuhan nyata.

3. Pelatihan Berbasis Pengalaman (Experiential Learning) dan Aplikasi Nyata

Widyaiswara harus bukan hanya mengajar di kelas, tetapi:

a)       Coaching di tempat kerja,

b)       Pendampingan real project,

c)       Action learning,

d)       Penugasan proyek inovasi di instansi peserta.

Dengan cara ini, peserta belajar sekaligus memperbaiki kerja organisasi nyata.

4. Kembangkan Sistem Pembelajaran Hybrid dan Teknologi

Pelatihan tidak harus selalu tatap muka. BPSDM bisa:

a)       Menggunakan platform digital learning untuk modul teori

b)       Webinar dengan narasumber top nasional dan internasional

c)       Virtual case simulation

Ini menambah skala dan jangkauan pelatihan tanpa harus menambah biaya besar.

5. Budayakan Kolaborasi Internal dan Eksternal

Untuk menumbuhkan sinergi:

a)       Widyaiswara harus bekerja dalam team teaching

b)       Ada komunitas praktik (Community of Practice) berdasarkan tema: pelayanan publik, digital governance, change leadership

c)       Kemitraan dengan perguruan tinggi, lembaga internasional, dan sektor privat

Budaya kolaborasi ini akan menghapus silo mindset.

6. Sistem Reward dan Accountability yang Jelas

Tanpa insentif yang tepat, perubahan sulit terjadi. Beberapa langkah konkret:

a)       Reward untuk widyaiswara inovatif

b)       Key Performance Indicator (KPI) yang terukur: impact peserta, feedback 360°, studi kasus sukses

c)       Penilaian berkala berdasarkan hasil nyata, bukan kehadiran absensi

 

Kenapa Corporate University Bukan Sekadar “Lable Kosmetik”?

Karena:

  1. Ia mengubah orientasi pelatihan dari “aktivitas tahunan” menjadi strategi pembelajaran organisasi.
  2. Menghubungkan kompetensi widyaiswara langsung ke outcome kinerja ASN.
  3. Bukan sekadar “mengajar”, tetapi “menghasilkan dampak”.
  4. Mendorong continuous learning — bukan pelatihan sekali lalu selesai.

 

Hasil yang Diharapkan di Masa Depan

Dengan Corporate University:

Widyaiswara Menjadi Agen Perubahan

Mereka tidak lagi berfungsi sebagai “pengantar materi buku teks”, tetapi sebagai mentor praktikal yang membantu peserta mengatasi masalah nyata.

Kualitas Pelatihan Meningkat Signifikan

Peserta mengaku bahwa pelatihan tidak hanya informatif tapi transformatif—menghasilkan perubahan nyata di unit kerja masing-masing.

Semangat Inovasi Muncul

Karena konteks lokal diintegrasikan dalam pembelajaran, widyaiswara jadi punya ruang berkreasi, bukan hanya mengajar modul standar.

Kolaborasi Menjadi Budaya

Internal BPSDM tidak lagi silo, tetapi learning organization yang saling berbagi dan berkembang bersama.

 

Penutup

Tantangan BPSDM Jawa Barat dalam pelatihan kepemimpinan ASN bukan lagi hal yang bisa diselesaikan dengan solusi parsial atau retorika administratif. Empat masalah utama: kualitas widyaiswara, pengalaman kepemimpinan, semangat inovasi, dan kolaborasi harus dipecahkan secara sistemik.

Dan konsep Corporate University bukan sekadar label seksi di kertas, tapi menjadi fondasi perubahan real bila diimplementasikan dengan strategi yang disiplin, terukur, dan adaptif terhadap dinamika birokrasi modern.

BPSDM harus berubah dari sekadar “penyelenggara pelatihan” menjadi knowledge powerhouse yang menghasilkan pemimpin ASN yang mampu menjawab tantangan pemerintahan abad 21. Dan itu dimulai dari widyaiswara yang siap untuk berubah—lebih kompeten, lebih berpengalaman kepemimpinan, lebih inovatif, dan lebih kolaboratif.

 

Bottom of Form

 Bandung, 22/2/2025

4 Ramadan1417H

Komentar