oleh
Budy Hermawan
Widyaiswara Ahli Madya pada BPSDM
Provinsi Jawa Barat
WIDYAISWARA PROFESIONAL:
Widyaiswara yang profesional akan
memiliki kompetensi atau kemampuan mendidik, mengajar dan melatih serta
kemampuan memfasilitasi yang unggul dalam suatu proses pembelajaran/pelatihan.
Widyaiswara yang kompeten akan lebih mampu membawa dan menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif, efektif dan menyenangkan serta akan lebih mampu
mengelola kelasnya dan membawa peserta diklat pada pencapaian hasil belajar
yang optimal. Widyaiswara profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan
keahlian khusus dalam bidang kewidyaiswaraan, sehingga ia mampu melakukan tugas
dan fungsinya sebagai Widyaiswara dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata
lain, Widyaiswara profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan
baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.
Dengan demikian Widyaiswara “wajib”
mengetahui bagaimana seharusnya mereka mengajar atau memfasilitasi, selain itu
Widyaiswara harus berupaya secara terus menerus untuk mengembangkan dirinya.
Tanggung jawab dalam mengembangkan profesi harus menjadi tuntutan kebutuhan
pribadi Widyaiswara, karena tanggung jawab mempertahankan dan mengembangkan
profesi tidak dapat dilakukan oleh orang lain kecuali oleh Widyaiswara itu
sendiri.
Widyaiswara harus peka dan tanggap
terhadap perubahan, pembaharuan serta IPTEK yang terus berkembang sejalan
dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan pekembangan zaman. Disinilah tugas
Widyaiswara untuk berusaha meningkatkan wawasan ilmu pengetahuannya, meningkatkan
kualitas pendidikannya (educational grade) sehingga dalam memfasilitasi dan
menyampaikan materi kepada peserta diklat mampu mengikuti arus perkembangan
atau tidak ketinggalan dengan perkembangan zaman. Setiap individu Widyaiswara
hendaknya menyadari bahwa mereka dituntut untuk dapat secara mandiri
mengembangkan dirinya, agar selalu belajar terus menerus dan berusaha agar
dirinya dapat mencapai derajat profesionalisme mengingat tuntutan dan harapan
masyarakat serta tantangan pekerjaan yang semakin meningkat. Mengadopsi pendapatbeberapa pendapat pakar tentang komponen profesionalisme, maka
penulis berpendapat bahwa keterampilan-keterampilan yang dimiliki seorang
Widyaiswara dapat diaplikasikan kedalam profesi sebagai berikut:
1. Keterampilan Menyampaikan Gagasan
(Speaking Skill)
Sebagai pengajar, setiap
Widyaiswara sudah seharusnya memiliki keterampilan berbicara, bagaimana
mengungkapkan gagasan dan pendapat dengan baik, serta memberikan pengarahan
dengan baik. Keterampilan ini dalam dunia kewidyaiswaraan merupakan kemampuan
menyampaikan materi pelajaran dengan baik atau transfer expert.
Seorang Widyaiswara sudah
sepantas nya mampu berkomunikasi secara efektif. Untuk itu diperlukan
penguasaan keterampilan
berkomunikasi secara verbal, dan juga secara non verbal, agar dapat
mengkomunikasikan ide dengan jelas dan sistematis, dan jika terpaksa
melontarkan kritik tidak sampai menyinggung perasaan peserta diklat, serta
mampu merangsang audience (peserta diklat) untuk menanggapi usul yang
dikemukakan.
2. Keterampilan Berpikir (Thinking Skill)
Keterampilan berpikir
adalah kemampuan untuk mendayagunakan otak dengan optimal. Berpikir merupakan
sebuah proses memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (decision
making), memecahkan masalah (problem solving), untuk itu diperlukan kemampuan berpikir
kreatif, sistematis, integratif, logis, dan kritis.
Dengan mengoptimalkan
kemampuan berpikir, maka seorang Widyaiswara dalam melaksanakan tugasnya mampu
menjawab dan memecahkan setiap permasalahan, setiap pertanyaan dengan
jawaban-jawaban yang jernih, tegas, logis dan kreatif. Seorang Widyaiswara
diharapkan mampu menelaah dan meneliti berbagai kemungkinan penjelasan dari suatu realitas eksternal maupun internal.
3. Keterampilan Menjaga Hubungan
Antarpribadi (Interpersonal Skill)
Berdasarkan Kompetensi sosial,
Widyaiswara harus menjaga hubungan antar pribadi dalam melakukan hubungan dan
kerjasama dengan lingkungan kerjanya. Oleh karena itu dalam berinteraksi dan
bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam kediklatan diperlukan
koordinasi antar Widyaiswara dengan peserta diklat, Widyaiswara dengan
Widyaiswara dan antar Widyaiswara dengan penyelenggara diklat. Agar koordinasi
dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan maka dibutuhkan adanya
komunikasi. agar komunikasi berjalan efektif dibutuhkan hubungan
interpersonal yang baik. Berbagai
penyebab kegagalan dan rintangan dalam berkomunikasi akan berakibat kecil
bahkan tidak berdampak, bila ada hubungan baik di antara komunikan. Sebaliknya,
pesan yang paling jelas, paling tegas, dan paling cermat tidak dapat
menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan yang tidak baik antar komunikan.
Untuk mewujudkan
terciptanya hubungan baik, setiap Widyaiswara harus dapat mengembangkan sikap
tenggang rasa, membangun kepercayaan terhadap peserta diklat, Widyaiswara yang
lain dan dengan penyelenggara diklat. Widyaiswra juga seharusnya saling membuka
diri, tidak memaksakan kehendak diri sendiri, untuk mewujudkan terciptanya
hubungan baik, setiap Widyaiswara harus dapat mengembangkan sikap tenggang
rasa, membangun kepercayaan terhadap peserta diklat, Widyaiswara yang lain dan
dengan penyelenggara diklat. Widyaiswra juga seharusnya saling membuka diri,
tidak memaksakan kehendak diri sendiri, bersedia menolong dan ditolong, sedapat
mungkin mampu meredam timbulnya bibit- bibit konflik dan apabila terjadi
konflik mampu mengelola konflik dengan baik sehingga tidak berlarut dan meluas.
4. Keterampilan Membangun Jaringan
Kerja (Network Skill)
Widyaiswara harus berjiwa
kosmopolit, yaitu mampu membangun kontak atau jaringan dengan dunia luar
lembaga diklat. Dengan membangun jaringan keluar, maka akan menambah wawasan,
pandangan, pengalaman dan pola pikir. Widyaiswara akan banyak menemukan cara dalam
menyelesaikan berbagai persoalan tertentu dengan adanya informasi-informasi
dari luar, bersedia menolong dan ditolong, sedapat mungkin mampu meredam
timbulnya bibit-bibit konflik dan apabila terjadi konflik mampu mengelola
konflik dengan baik sehingga tidak berlarut dan meluas.
5.
Keterampilan Mengembangkan Diri (Growth)
Widyaiswara secara sadar,
mampu untuk secara terus menerus mengembangkan diri ke arah yang lebih baik,
mampu memperlihatkan kemampuan dan keterampilan diri secara optimal, dan mampu
mendorong diri sendiri untuk mengembangkan kapasitas dan prestasi secara
optimal. Namun timbulnya kemampuan tersebut perlu adanya kesadaran dari dalam
diri untuk mau menjadi manusia yang hebat dan pembelajar.
6. Disiplin
(Dicipline)
Disiplin adalah ketaatan
dan kepatuhan serta kerelaan dalam menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang
berlaku. Setiap Widyaiswara secara sadar dan sukarela harus taat pada berbagai
ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar nilai atau norma yang telah
ditetapkan baik yang berlaku di lingkup Pemerintahan (sebagai ASN) lembaga
kediklatan, masyarakat, dan agama. Perasaan memiliki dan kecintaan terhadap
pekerjaan harus dikembangkan dan menjadi komitmen dalam diri setiap
widyaiswara, sehingga akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi
proses pembelajaran
Sejarah Kepribadian dan hubungannya
dengan Widyaiswara
Kepribadian dalam bahasa Inggris
dinyatakan dengan personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu
persona, yang berarti topeng dan personare, yang artinya menembus. Istilah
topeng berkenaan dengan salah satu atribut yang dipakai oleh para pemain
sandiwara pada jaman Yunani kuno. Dengan topeng yang dikenakan dan diperkuat
dengan gerak-gerik dan apa yang diucapkan, karakter dari tokoh yang diperankan
tersebut dapat menembus keluar, dalam arti dapat dipahami oleh para penonton.
Dari sejarah pengertian kata
personality tersebut, kata persona yang semua berarti topeng, kemudian
diartikan sebagai pemaiannya sendiri, yang memainkan peranan seperti
digambarkan dalam topeng tersebut. Dan sekarang ini istilah personality oleh
para ahli dipakai untuk menunjukkan suatu atribut tentang individu, atau untuk
menggambarkan apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia.
Definisi-definisi Kepribadian
Banyak ahli yang telah merumuskan
definisi kepribadian berdasarkan paradigma yang merekla yakini dan focus
analisis dari teori yang mereka kembangkan. Dengan demikian akan dijumpai
banyak variasi definisi sebanyak ahli yang merumuskannya. Berikut ini dikemukakan
beberapa ahli yang definisinya dapat dipakai acuan dalam mempelajari
kepribadian.
Kepribadian atau psyche adalah
mencakup keseluruhan fikiran, perasaan dan tingkah laku, kesadaran dan ketidak
sadaran. Kepribadian membimbing manusia untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Sejak awal kehidupan, kepribadian
adalah kesatuan atau berpotensi membentuk kesatuan. Ketika mengembangkan
kepribadian, orang harus berusaha mempertahankan kesatuan dan harmoni antar
semua elemen kepribadian Faktor-faktor penentu kepribadian
1. Faktor
keturunan
Keturunan merujuk pada faktor genetika
seorang individu.Tinggi fisik, bentuk
wajah, gender, temperamen, komposisi otot dan refleks,
tingkat energi dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya
dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa
orang tua dari individu tersebut, yaitu
komposisi biologis, psikologis, dan psikologis bawaan dari individu. Terdapat
tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas
terhadap argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan
kepribadian seseorang.
2. Faktor
lingkungan
Faktor lain yang memberi
pengaruh cukup besar terhadap pem bentukan karakter adalah lingkungan di mana
seseorang tumbuh dan dibesar kan ; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok
sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami.
Faktor lingkungan ini
memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya
membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu
sehingga ideologi yang secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya
memiliki sedikit pengaruh pada kultur yang lain.
Sifat-sifat kepribadian
Berbagai penelitian awal mengenai
struktur kepribadian berkisar di seputar upaya untuk mengidentifikasikan dan
menamai karakteristik permanen yang
menjelaskaperilaku individu seseorang. Karakteristik yang umumnya melekat dalam
diri seorang individu adalah malu, agresif, patuh, malas, ambisius, setia, dan
takut. Karakteristik- karakteristik tersebut jika ditunjukkan dalam berbagai
situasi, disebut sifat-sifat kepribadian. Sifat kepribadian menjadi suatu hal
yang mendapat perhatian cukup besar karena para peneliti telah lama meyakini
bahwa sifat-sifat kepribadian dapat membantu proses seleksi karyawan,
menyesuaikan bidang pekerjaan dengan individu, dan memandu keputusan
pengembangan karier.
Setiap individu memiliki ciri-ciri
kepribadian tersendiri, mulai dari yang menunjukkan kepribadian yang sehat atau
justru yang tidak sehat. Dalam hal ini, Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003)
mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai berikut
:
Kepribadian yang sehat
Mampu menilai diri sendiri secara
realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya,
secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
1) Mampu menilai situasi
secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang
dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan
kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
2) Mampu menilai prestasi
yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya
dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami
superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan
hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi
dengan sikap optimistik.
3) Menerima tanggung jawab;
dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah
kehidupan yang dihadapinya.
4) Kemandirian; memiliki
sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan,
mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang
berlaku di lingkungannya.
5) Dapat mengontrol emosi;
merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi,
atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
6) Berorientasi tujuan; dapat
merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan
pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan
berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan),
pengetahuan dan keterampilan.
7) Berorientasi tujuan; dapat
merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan
pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan
berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan),
pengetahuan dan keterampilan.
8) Berorientasi keluar
(ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian
terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel
dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa
nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan
untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan
dirinya.
9) Penerimaan sosial; mau
berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam
berhubungan dengan orang lain.
10) Memiliki filsafat hidup;
mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan
agama yang dianutnya.
11) Berbahagia; situasi
kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor- faktor
achievement (prestasi), acceptance ( penerimaan), dan affection (kasih sayang).
Kepribadian yang tidak sehat
Ø Mudah marah (tersinggung)
Ø Menunjukkan kekhawatiran
dan kecemasan
Ø Sering merasa tertekan
(stress atau depresi)
Ø Bersikap kejam atau senang
mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
Ø Ketidakmampuan untuk
menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
Ø Kebiasaan berbohong
Ø Hiperaktif
Ø Bersikap memusuhi semua
bentuk otoritas
Ø Senang
mengkritik/mencemooh orang lain
Ø Sulit tidur
Ø Kurang memiliki rasa
tanggung jawab
Ø Sering mengalami pusing
kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
Ø Kurang memiliki kesadaran
untuk menaati ajaran agama
Ø Pesimis dalam menghadapi
kehidupan
Ø Kurang bergairah (bermuram
durja) dalam menjalani kehidupan
Sifat kepribadian utama yang
memengaruhi perilaku organisasi
Evaluasi inti diri :
Evaluasi inti diri adalah tingkat di
mana individu menyukai atau tidak menyukai diri mereka sendiri, apakah mereka
menganggap diri mereka cakap dan efektif, dan apakah mereka merasa
memegang kendali atau
tidak berdaya atas lingkungan
mereka. Evaluasi inti diri seorang individu ditentukan oleh dua elemen utama:
harga diri dan lokus kendali. Harga diri didefinisikan sebagai tingkat menyukai
diri sendiri dan tingkat sampai mana individu menganggap diri mereka berharga
atau tidak berharga sebagai seorang manusia.
Pemantauan diri
Pemantauan diri adalah kemampuan
seseorang untuk menyesuaikan perilakunya dengan faktor situasional eksternal.
Individu dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi menunjukkan kemampuan yang
sangat baik dalam menyesuaikan perilaku dengan faktor-faktor situasional
eksternal. Bukti menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pemantauan diri yang
tinggi cenderung lebih memerhatikan perilaku individu lain dan pandai
menyesuaikan diri bila dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat
pemantauan diri yang rendah.
Jadilah Widyaiswara yang kooperatif,
bersikap yang cenderung oportunis, berinisiatif, berani bertindak, dan tekun
hingga berhasil mencapai perubahan yang berarti. Pribadi proaktif menciptakan
perubahan positif daalam lingkungan tanpa memedulikan batasan atau halangan.
Kesimpulan :
Widyaiswara adalah jabatan
fungsional, suatu jabatan yang dalam melaksanakan tugasnya harus didasarkan
pada kompetensi tertentu dan kode etik jabatan. Oleh sebab itu harus memenuhi
hard competency dan soft competency. Kompetensi kepribadian dan sosial sangat
berpengaruh pada kepercayaan diri sendiri, wibawa dalam melaksanakan tugas ,
mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang serba mandiri.
a. Secara biologis,
seharusnya Widyaiswara sehat secara fisik, dapat tampil sempurna,termasuk
penampilan dalam berpakaian , dalam hal ini Widyaiswara dianjurkan pakai baju
lengan panjang dan berdasi bagi laki-laki, sedangkan bagi perempuan
menyesuaikan, hal ini memungkinkan menjadikan Widyaiswara yang percaya diri.
2) Secara psikologis,
Widyaiswara harus dapat mengendalikan emosinya sehingga dapat tampil ( dalam
proses belajar ,mengajar ) dengan teperamen terkendali. Pengendalian emosi ini dapat
juga dimulai dari pengenalan diri dari setiap Widyaiswara pada awal pertemuan,
secara psikologis bila dimulai dengan pengenalan diri akan membawa keakraban
dan merasa dekat dengan para peserta didik.
3) Secara sosiologis
Widyaiswara harus sadar bahwa kepribadian erat kaitannya dengan profesi, oleh
sebeb itu seorang Widyaiswara tidak hanya mengajar didepan kelas saja tetapi
dia juga bisa menjadi fasilitator, motivator terhadap orang lain, tauladan bagi
orang lain, ini erat kaitannya dengan etika / kode etik Widyaiswara ( tepat
waktu, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk keberhasilan, meningkatkan
pengetahuan, menghargai sesama Widyaiswara, komitmen kebersamaan, kerja sama
diantara Widyaiswara ).
4) Mampu menjadi sosok yang
terbuka.
5) Seorang Widyaiswara harus
mampu berinteraksi dengan lingkungan, pola yang terbaik adalah dengan
mengutamakan dan menimbulkan sugesti dan simpati pada lingkungan termasuk
tempat bekerja maupun terhadap para peserta pelatihan.
Widyaiswara perlu memotivasi dirinya
agar berkepribadian sesuai dengan koridornya sebagai ASN, berkompetensi sesuai
dengan yang telah ditetapkan oleh Lembaga Administrasi Negara dan menyadi
panutan bagi peserta latih, menjadi cermin bagi instansi tempat Widyaiswara
bertugas sehingga mampu menjadi tenaga yang profesional .
Komentar
Posting Komentar